Rabu, 06 Desember 2023

Sumber Bukti Sejarah Kerajaan Sriwijaya

| Rabu, 06 Desember 2023
sriwijaya kingdom
 
Sahabat Pustaka Pengetahuan, sejak permulaan tarikh Masehi, hubungan dagang antara India dengan Kepulauan Indonesia  sudah ramai. Seperti di daerah pantai timur Sumatra menjadi jalur perdagangan yang ramai dikunjungi para pedagang. Kemudian, muncul pusat-pusat perdagangan yang berkembang menjadi pusat kerajaan. Kerajaan kerajaan kecil di pantai Sumatera bagian timur sekitar abad ke- 7, antara lain Tulangbawang, Melayu, dan Sriwijaya. Dari ketiga kerajaan itu, yang kemudian berhasil  berkembang dan mencapai kejayaannya adalah Sriwijaya. Kerajaan Melayu juga sempat berkembang,   dengan pusatnya di Jambi.

Awal Berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Adapun sebuah penelitian seseorang yang berasal dari Prancis bernama George Coedes di tahun 1920, melalui surat kabar yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan Belanda. Kerajaan Sriwijaya disebut pertama kali muncul pada abad ke-7 masehi. Berdasar catatan seorang biksu bernama I Tsing dan prasasti abad ke-7 yang ditemukan dalam jumlah cukup banyak. Pada saat itu kerajaan ini dipimpin oleh Dapunta Hyang Sri Janayasa dan biasa disebut dengan nama Sri Janayasa. Ditemukan dalam prasasti di Kota Kapur, Bangka meskipun banyak peneliti yang kesulitan memecahkan lewat sumber-sumber yang dijumpai. Hal itu karena tidak ditemukannya struktur genealogis yang terdiri dari susunan dengan rapi.

Pada saat ditemukannya prasasti Kedukan Bukit, terdapat sebuah cerita dari seorang pria bernama Dapunta Hyang. Pernah melakukan perjalanan dengan membawa pasukan sebanyak 20 ribu orang, dari Minanga Tamvan menuju ke Palembang, Bengkulu dan Jambi. Disaat melakukan perjalanan, Dapunta Hyang menguasai banyak wilayah yang dianggap strategi suntuk melakukan perdagangan. 

Ada pula prasasti Kota yang ditemukan di Pulau Bangka di tahun 686 masehi, kerajaan Sriwijaya disebut sudah menaklukan banyak wilayah Sumatera bagian selatan hingga ke wilayah Lampung. Dalam prasasti ini juga disebutkan Sri Janayasa ketika melancarkan ekspedisi militer di wilayah Jawa karena dianggap tak mau berbakti terhadap Sriwijaya.

Letak dari Kerajaan Sriwijaya

Letak kerajaan Sriwijaya hingga saat ini, masih menjadi perdebatan. Namun, adapun pendapat yang dikemukakan George Coedes di tahun 1918 menyebutkan jika Sriwijaya berada di wilayah Palembang. Menariknya Palembang dianggap sebagai pusat pemerintahan kerajaan ini, selain itu mengapa kerajaan Sriwijaya disebut sebagai kerajaan maritim karena sering berpindah.

Beberapa ahli menyebutkan jika Sriwijaya berpusat di wilayah Kedah, kemudian Muara Takus hingga ke Jambi. Di tahun 2013, ditemukan sejumlah situs candi dengan corak Budha yang terdapat di wilayah Muaro Jambi. Menariknya runtuhnya candi ini diperkirakan menjadi tempat tinggal para cendekiawan Buddha.

Pendiri Kerajaan Sriwijaya

Pada saat mendekati waktu runtuhnya kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat dan kerajaan Kalingga di Jawa Tengah. Adapun nama Dapunta Hyang Sri didapat dari sebuah catatan I Tsing dan ditambah dengan ditemukannya dua prasasti yakni prasasti Talang Tuo dan prasasti Kedukan Bukit. Dari sinilah ditemukan siapa pendiri kerajaan Sriwijaya sebenarnya.

Di dalam catatan I Tsing dan prasasti menyebutkan jika Sri Janayasa merupakan seorang yang diangkat sebagai raja kerajaan Sriwijaya setelah melakukan ekspedisi. Perjalanan suci yang pada saat itu dikenal dengan istilah Siddhayatra dengan menggunakan sebuah perahu. Dengan menggunakan armada ia memimpin ribuan pasukan untuk menguasai wilayah Palembang. Dengan peperangan menjadi pilihan bagi Sri Janayasa dan hal itu membuatnya sukses menguasai Palembang, Jambi, Lampung dan Bangka. Catatan lainnya menyebutkan Dapunta Hyang diklaim sudah pernah mencoba melakukan penyerangan terhadap kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa pada saat itu.

Pada tahun 692 M, Sriwijaya mengadakan ekspansi ke daerah sekitar Melayu. Melayu dapat ditaklukkan dan berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Letak pusat Kerajaan Sriwijaya ada berbagai pendapat. Ada yang berpendapat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang, ada yang berpendapat di Jambi, bahkan ada yang berpendapat di luar Indonesia. Akan tetapi, pendapat yang banyak didukung oleh para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya  berlokasi  di Palembang, di dekat pantai dan di tepi Sungai Musi. Ketika pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang mulai menunjukkan kemunduran, Sriwijaya berpindah ke Jambi. 

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Adapun yang menjadi sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya yang penting adalah prasasti. Prasasti-prasasti itu ditulis dengan huruf Pallawa. Bahasa yang dipakai Melayu Kuno. Beberapa prasasti itu antara lain sebagai berikut. 

1. Prasasti Kedukan Bukit

sumber sejarah kerajaan sriwijaya
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang. Prasasti ini berangka tahun 605 Saka (683 M). Isinya antara lain menerangkan bahwa seorang bernama Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan menggunakan perahu. Ia berangkat dari Minangatamwan   dengan membawa tentara 20.000 personel. 

2. Prasasti Talang Tuo 

sejarah kerajaan sriwijaya

Prasasti Talang Tuo ditemukan di sebelah barat Kota Palembang di  daerah  Talang  Tuo.  Prasasti ini berangka tahun 606 Saka  (684  M). Isinya menyebutkan tentang pembangunan sebuah taman yang disebut Sriksetra. Taman ini dibuat oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga. 

3. Prasasti Telaga Batu 

prasasti kerajaan sriwijaya

Prasasti Telaga Batu ditemukan di Palembang.  Prasasti  ini  tidak  berangka tahun. Isinya terutama tentang kutukan- kutukan yang menakutkan bagi mereka yang berbuat kejahatan. 

4. Prasasti Kota Kapur 

prasasti

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka, berangka tahun 608 Saka (656 M). Isinya  terutama permintaan  kepada para dewa untuk menjaga kedatuan Sriwijaya, dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat.

5. Prasasti Karang Berahi 

sumber bukti kerajaan majapahit

Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi, berangka tahun 608 saka (686 M).  Isinya sama dengan isi Prasasti Kota Kapur. Beberapa prasasti yang lain, yakni Prasasti  Ligor berangka tahun 775 M ditemukan di Ligor, Semenanjung Melayu, dan  Prasasti Nalanda di India Timur. Di samping  prasasti-prasasti tersebut, berita Cina juga  merupakan sumber sejarah Sriwijaya yang  penting. Misalnya berita dari I-tsing, yang pernah tinggal di Sriwijaya. 

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

    Pada masa pemerintahan Balaputradewa, kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya. Pada saat itu kerajaan Sriwijaya mampu menguasai jalur perdagangan yang sangat strategis. Perdagangan di kerajaan Sriwijaya mengalami kemajuan yang pesat terutama karena telah mencapai ke wilayah Thailand dan Kamboja. Hal tersebut dapat terlihat dari Pagoda Borom That dengan gaya arsitektur Sriwijaya di Thailand. Hal tersebut, karena letak kerajaan Sriwijaya yang mudah dalam menjual hasil alam, termasuk diantaranya seperti kapur barus, cengkeh, kayu gaharu, cendana, kapulaga hingga pala. Balaputradewa dianggap sebagai raja yang membawa Sriwijaya ke puncak kejayaan di abad ke-8 hingga 9. Meskipun kerajaan ini sudah mengalami masa jaya hingga generasi Sri Samarawijaya.

Pada saat itu raja-raja sesudah Sri Marawijaya kerap menjalani peperangan melawan kerajaan di pulau Jawa di tahun 922 masehi hingga 1016 masehi. Dalam masa itulah kerajaan Sriwijaya berhasil menguasai selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan China dan India. Kekuasaan kerajaan ini berhasil diperluas hingga wilayah Jawa Barat.

Perkembangan Kerajaan Sriwijaya 

Ada beberapa faktor yang mendorong perkembangan Sriwijaya antara lain: 

a. Letak geografis dari Kota Palembang. 

Palembang sebagai pusat  pemerintahan  terletak  di  tepi  Sungai  Musi.  Di depan  muara  Sungai  Musi  terdapat  pulau-pulau  yang berfungsi sebagai pelindung pelabuhan di Muara Sungai Musi. Keadaan seperti ini sangat tepat untuk kegiatan pemerintahan dan pertahanan. Kondisi itu pula menjadikan Sriwijaya sebagai jalur perdagangan internasional dari India ke Cina, atau sebaliknya. Juga kondisi sungai-sungai yang besar, perairan laut yang cukup tenang, serta penduduknya yang berbakat sebagai pelaut ulung. 

b. Runtuhnya Kerajaan Funan di Vietnam akibat serangan Kamboja. 
 
Hal  ini  telah  memberi  kesempatan  Sriwijaya untuk cepat berkembang sebagai negara maritim. 

Perkembangan Politik dan Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya

Perkembangan Politik dan Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya mulai berkembang pada abad ke-7  M.  Pada  awal  perkembangannya,  raja  disebut dengan Dapunta Hyang. Dalam Prasasti Kedukan Bukit dan  Talang  Tuo  telah  ditulis  sebutan  Dapunta  Hyang. Pada abad ke-7, Dapunta Hyang banyak melakukan usaha perluasan daerah.

daerah kekuasaan kerajaan sriwijaya

Daerah - daerah yang berhasil dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya, antara lain sebagai berikut.  

a. Tulang-Bawang   yang   terletak   di   daerah Lampung. 

b. Daerah Kedah

Daerah Kedah yang terletak di pantai barat Semenanjung  Melayu. Daerah   ini   sangat penting  artinya  bagi  usaha  pengembangan perdagangan dengan India. Menurut I-tsing, penaklukan Sriwijaya atas Kedah berlangsung antara tahun 682-685 M. 

c. Pulau  Bangka

Pulau  Bangka  yang  terletak  di  pertemuan jalan perdagangan internasional, merupakan daerah  yang  sangat  penting.  Daerah  ini dapat dikuasai Sriwijaya pada tahun 686 M berdasarkan  prasasti  Kota  Kapur.  Sriwijaya juga diceritakan berusaha menaklukkan Bhumi Java yang tidak setia kepada Sriwijaya. Bhumi Java yang dimaksud adalah Jawa, khususnya Jawa bagian barat. 

d.  Daerah Jambi terletak di tepi Sungai Batanghari. 

Daerah ini memiliki kedudukan yang penting, terutama untuk memperlancar perdagangan di  pantai  timur  Sumatra.  Penaklukan  ini dilaksanakan kira-kira tahun 686 M (Prasasti Karang Berahi). 

e. Tanah Genting Kra.

Tanah Genting Kra merupakan tanah genting bagian utara Semenanjung Melayu. Kedudukan Tanah Genting   Kra   sangat penting. Jarak antara pantai barat dan pantai timur di tanah genting sangat dekat, sehingga para  pedagang  dari  Cina  berlabuh  dahulu di  pantai  timur  dan  membongkar barang dagangannya untuk diangkut dengan pedati ke pantai barat. Kemudian mereka berlayar ke India.  Penguasaan  Sriwijaya  atas  Tanah Genting Kra dapat diketahui dari Prasasti Ligor yang berangka tahun 775 M. 

f. Kerajaan Kalingga dan Mataram Kuno. 

Menurut berita Cina, diterangkan adanya serangan dari barat,  sehingga  mendesak  Kerajaan  Kalingga pindah ke sebelah timur. Diduga yang melakukan serangan   adalah   Sriwijaya.   Sriwijaya   ingin menguasai Jawa bagian tengah karena pantai utara Jawa bagian tengah juga merupakan jalur perdagangan yang penting. 
 
Sriwijaya terus melakukan perluasan daerah, sehingga Sriwijaya menjadi kerajaan yang besar. Untuk lebih memperkuat pertahanannya, pada tahun 775 M dibangunlah sebuah pangkalan di daerah Ligor. Waktu itu yang menjadi raja adalah Darmasetra. Raja yang terkenal dari Kerajaan Sriwijaya adalah Balaputradewa. Ia memerintah sekitar abad ke-9 M. Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya berkembang pesat dan mencapai zaman keemasan. Balaputradewa adalah keturunan dari Dinasti Syailendra, yakni putra dari Raja Samaratungga dengan Dewi Tara dari Sriwijaya. Hal tersebut diterangkan dalam Prasasti Nalanda. 

Balaputradewa adalah seorang raja yang besar di Sriwijaya. Raja Balaputradewa menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Benggala yang saat itu diperintah  oleh  Raja  Dewapala  Dewa. Raja ini menghadiahkan sebidang tanah kepada Balaputradewa untuk pendirian sebuah asrama bagi para pelajar dan siswa yang sedang belajar di Nalanda, yang  dibiayai  oleh  Balaputradewa, sebagai “dharma”.  Hal  itu tercatat dengan baik dalam prasasti Nalanda, yang saat ini berada di Universitas Nawa Nalanda, India. Bahkan bentuk asrama itu mempunyai kesamaan arsitektur dengan candi Muara Jambi, yang berada di Provinsi Jambi saat ini. Hal tersebut menandakan Sriwijaya memperhatikan ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama Buddha dan bahasa Sanskerta bagi generasi mudanya. 

  Pada tahun 990 M yang menjadi Raja Sriwijaya adalah Sri Sudamaniwarmadewa. Pada masa pemerintahan raja itu terjadi serangan  Raja  Darmawangsa  dari  Jawa  bagian  Timur. Akan tetapi, serangan itu berhasil digagalkan oleh tentara Sriwijaya. Sri Sudamaniwarmadewa kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Marawijayottunggawarman. Pada masa pemerintahan Marawijayottunggawarman, Sriwijaya membina hubungan dengan Raja Rajaraya I dari Colamandala. Pada masa itu, Sriwijaya terus mempertahankan kebesarannya. Untuk mengurus setiap daerah kekuasaan Sriwijaya, dipercayakan kepada  seorang  Rakryan  (wakil  raja  di  daerah).  Dalam  hal  ini Sriwijaya sudah mengenal struktur pemerintahan. Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan Sriwijaya cukup luas. Daerah-daerah kekuasaannya antara lain Sumatra dan pulau- pulau sekitar Jawa bagian barat, sebagian Jawa bagian tengah,  sebagian Kalimantan, Semenanjung Melayu, dan hampir seluruh  perairan Nusantara. Bahkan Muhammad Yamin menyebutkan  Sriwijaya sebagai negara nasional yang pertama. 

Perkembangan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya

   Penduduk  Sriwijaya awalnya hidup dengan bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi karena Sriwijaya terletak di tepi Sungai Musi dekat pantai, maka perdagangan menjadi cepat berkembang. Perdagangan kemudian menjadi mata pencaharian pokok. Perkembangan perdagangan didukung oleh keadaan dan letak Sriwijaya yang strategis. Sriwijaya terletak di persimpangan jalan perdagangan internasional. Para pedagang Cina yang akan ke India singgah dahulu di Sriwijaya, begitu juga para pedagang dan India yang akan ke Cina. Di Sriwijaya para pedagang melakukan bongkar muat barang dagangan. Dengan demikian, Sriwijaya semakin ramai dan berkembang menjadi pusat perdagangan. Sriwijaya mulai menguasai perdagangan nasional maupun internasional di kawasan perairan Asia Tenggara. Perairan di Laut Natuna, Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa  berada  di  bawah  kekuasaan Sriwijaya.

Tampilnya   Sriwijaya   sebagai  pusat perdagangan, memberikan  kemakmuran bagi rakyat dan negara Sriwijaya. Kapal-kapal yang singgah  dan melakukan bongkar muat, harus  membayar  pajak.  Dalam  kegiatan  perdagangan, Sriwijaya mengekspor gading,  kulit,  dan  beberapa  jenis  binatang   liar, sedangkan   barang impornya  antara  lain  beras,  rempah-rempah, kayu  manis,  kemenyan,  emas,  gading,  dan binatang.

   Perkembangan perdagangan tersebut telah memperkuat kedudukan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim. Kerajaan maritime adalah kerajaan yang mengandalkan perekonomiannya dari kegiatan perdagangan dan hasil-hasil laut. Untuk memperkuat kedudukannya, Sriwijaya membentuk armada angkatan laut yang kuat. Melalui armada angkatan laut yang kuat Sriwijaya mampu mengawasi perairan di Nusantara. Hal ini  sekaligus merupakan  jaminan  keamanan bagi para pedagang yang ingin berdagang dan berlayar di wilayah perairan Sriwijaya. 

Kehidupan Beragama Kerajaan Sriwijaya.

kehidupan beragama kerajaan sriwijaya

Kehidupan beragama di Sriwijaya sangat semarak. Bahkan Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha Mahayana di seluruh wilayah Asia Tenggara. Diceritakan oleh I-tsing, bahwa di Sriwijaya tinggal ribuan pendeta dan pelajar agama Buddha. Salah seorang pendeta Buddha yang terkenal adalah Sakyakirti. Banyak pelajar asing yang datang ke Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta. Kemudian mereka belajar agama Buddha di Nalanda, India. Antara tahun 1011 - 1023 datang seorang pendeta agama Buddha dari Tibet bernama Atisa untuk lebih memperdalam pengetahuan agama Buddha. 

Dalam kaitannya dengan perkembangan agama dan kebudayaan Buddha, di Sriwijaya ditemukan beberapa peninggalan. Misalnya, candi Muara Takus, yang ditemukan dekat Sungai Kampar di daerah Riau. Kemudian di daerah Bukit Siguntang ditemukan arca Buddha. Pada tahun 1006 Sriwijaya juga telah membangun wihara sebagai tempat suci agama Buddha di Nagipattana, India Selatan. Hubungan Sriwijaya dengan India Selatan waktu itu sangat erat. Bangunan lain yang sangat penting adalah Biaro Bahal yang ada di Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Di tempat ini pula terdapat bangunan wihara.  

Masa Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Adapun penyebab kemunduran kerajaan Sriwijaya adalah karena serangan banyak kerajaan terutama dari pulau Jawa, saat itu dari kerajaan Medang yang terkenal dengan nama Mataram Kuno menjadi yang paling gencar terjadi. Kemudian serangan bertubi-tubi dari kerajaan Cola hingga kekuasaan di selat Malaka melemah dan perlahan berhasil dikuasai lawan pada sebagian besar wilayah Sriwijaya. Kemunduran Sriwijaya mulai terjadi di abad ke-11 masehi, berawal dari serangan dari Rajendra Coladewa bahkan ia berhasil menaklukan salah satu raja dari kerajaan ini. Kerajaan Melayu menjadi salah satu kerajaan yang ditaklukan pada abad ke-13. 

Hal ini dilakukan oleh kerajaan Singasari dari Jawa dan di bawah kepemimpinan Kertanegara dalam ekspedisi Pamalayu. Sementara itu Sriwijaya semakin melemah dan tak mampu berbuat apa-apa dalam mencegah terjadinya penaklukan. Kelemahan itu bahkan dimanfaatkan kerajaan Sukhodaya asal Thailand dengan pemimpinnya bernama raja Kamheng dan merebut semenanjung Malaysia hingga pada abad ke-14 kerajaan ini benar-benar runtuh akibat serangan dari Majapahit.

Penyebab Kemunduran Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan  Sriwijaya  akhirnya  mengalami  kemunduran karena beberapa hal antara lain : 

a. Keadaan sekitar Sriwijaya berubah, tidak lagi dekat dengan pantai. 

Hal ini disebabkan aliran Sungai Musi, Ogan, dan Komering banyak membawa lumpur. Akibatnya. Sriwijaya tidak baik untuk perdagangan. 

b. Banyak daerah kekuasaan Sriwijaya yang melepaskan diri. 

Hal ini disebabkan terutama karena melemahnya angkatan laut Sriwijaya, sehingga pengawasan semakin sulit. 

c. Dari segi politik, beberapa kali Sriwijaya mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan lain.   

Tahun 1017 M Sriwijaya  mendapat  serangan  dari  Raja Rajendracola dari Colamandala, namun Sriwijaya masih dapat bertahan. Tahun 1025 serangan  itu  diulangi,  sehingga Raja  Sriwijaya,  Sri Sanggramawijayattunggawarman ditahan oleh pihak Kerajaan Colamandala. Tahun 1275, Raja Kertanegara dari Singhasari melakukan Ekspedisi Pamalayu. Hal itu menyebabkan daerah Melayu lepas. Tahun 1377 armada angkatan laut Majapahit menyerang   Sriwijaya.   Serangan   ini   mengakhiri   riwayat Kerajaan Sriwijaya.

Raja-raja di kerajaan Sriwijaya

Karena struktur genealogis di Sriwijaya banyak yang mengalami putus, dengan didukung beberapa bukti yang dianggap kurang kuat, sehingga berdampak pada nama-nama raja di kerajaan Sriwijaya yang sebelumnya sudah disepakati oleh sejumlah ahli. Adapun berikut ini nama raja-raja yang mengisi kerajaan Sriwijaya sesuai kesepakatan ahli.
  • Sri Indrawarman
  • Raja Dharanindra
  • Raja Samaratungga
  • Rakai Pikatan
  • Balaputradewa
  • Sri Udayadityawarman
  • Sri Cudamaniwarman atau Cudamaniwarman
  • Sri Marawijayatunggawarman
  • Sri Sanggaramawijayatunggawarman
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Adapun peninggalan kerajaan Sriwijaya dalam bentuk tulisan 

Informasi mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya dapat diketahui melalui beberapa bukti prasasti dalam bentuk tulisan di beberapa situs di Kota Palembang.

1. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Kampung Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang, Palembang.

2. Prasasti Talang Tuo

Prasasti Talang Tuo yang letaknya ada di Desa Gandus, sebelah barat Palembang

3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu yang letanya berada di sekitar kolam Telaga Biru yang tidak jauh dari Sabokingking, Palembang.

4. Prasasti Bukit Siguntang

Prasasti Bukit Siguntang merupakan Prasasti yang terletak di Situs Bukit Siguntang.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya dalam Bentuk Situs Bangunan

peninggalan kerajaan sriwijaya

1. Wanu Sriwijaya, Rekonstruksi Kota Sriwijaya

Pada situs Wanu Sriwijaya, pernah ditemukan pecahan keramik dan tembikar, tiang-tiang kayu, sisa industri dan sisa barang-barang keperluan sehari-hari. Kota ini dibagi menjadi tiga, yaitu lokasi pemukiman, lokasi upacara keagamaan, dan tama Sriksetra yang dikatakan oleh Dapunta Hiyang Srijayanasa.

2. Situs Karanganyar

Pada bagian sebelah selatan Bukit Siguntang, di wilayah Kelurahaan Karanganyar dan Kelurahan 36 Ilir, terdapat sebuah dataran rendah yang berupa rawa, ditemukan sisa-sisa bangunan air, yaitu kanal-kanal, kolam buatan, dan parit-parit kuno.

3. Situs Tingkap

Pada situs Candi Tingkap merupakan suatu wilayah kebun karet ditemukannya sebuah arca Buddha dan runtuhan bangunan bata. Arca Buddha berdiri pada sebuah padmasana (teratai) dengan sikap tanganya witarkamudra, dengan memakai jubah. Yang terletak di Desa Tingkap, Kecamatan Surulangun, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.

4. Situs Bingin Jungut

Situs Bingin Jungut merupakan situs yang letaknya di Desa Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Di situs ini ditemukan sebuah arca Awalokiteswara yang bertangan empat (disimpan di Museum Nasional), dan sebuah arca Buddha yang belum selesai (disimpan di Museum Balaputradewa, Palembang).

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya dalam Bentuk Arca

Dikutip dari Jurnal Pemanfaatan Situs Buddhisme di Palembang Sebagai Suplemen Materi Pembelajaran Sejarah yang disusun oleh Suswandari, Nur Fajar Absor, Desyanti Aprilia, dkk. Yang menjelaskan beberapa Arca peninggalan Kerajaan Sriwijajaya.

1. Arca Wairocana, Arca Jambhala, Arca Sakhyamuni, dan Arca Bodhisattwa

Arca Wairocana, Arca Jambhala, Arca Sakhyamuni, dan Archa Bodhisattwa merupakan empat arca peninggalan Situs Buddha yang ada di Situs Bukit Siguntang, Palembang.

2. Arca Bodhisattwa Awalokiteswara

Arca Bodhisattwa Awalokiteswara adalah salah satu arca yang ada di Situs Bingin Jungut, Mambnag, Lubuk Tua Musi Rawas, Sumatera Selatan. Yang berisi tentang seorang pendeta Hindu yang memberikan persembahan kepada pemmeluk ajaran Buddha Mahayana.

3. Keramik Tiongkok dan Kaca Persia

Keramik Tiongkok, Kaca Persia yang berisi tentang penanda hubungan yang erat dengan bangsa lain yang singgah di Sriwijaya. Keramik Tiongkok ini berada di Taman Purbakala Sriwijaya, Kota Palembang.

4. Guci, Tembikar, dan Tempayan

Guci, Tembikar, dan Tempayan merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang terletak sama dengan Keramik Tiongkok di Taman Purbakala Sriwijaya, Palembang. 


Demikianlah artikel yang berjudul Sumber Bukti Sejarah Kerajaan Sriwijaya. Apabila ada kekurangan ataupun kekeliruan dalam penulisan artikel ini, Pustaka Pengetahuan mengucapkan mohon maaf yang sebesar - besarnya. Silahkan tinggalkan pesan yang bijak pada kolom komentar yang tersedia. Terima kasih sudah mengunjungi, semoga bermanfaat.

Bahan bacaan lainnya, jika membantu tugas sekolah silahkan klik Berbagai Reviews 

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, silahkan klik Baraja Farm 

Tutorial cara budidaya silahkan klik Baraja Farm Channel

Media sosial silahkan klik facebook.com

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar