Senin, 27 November 2023

Kerajaan Pada Masa Hindu-Buddha

| Senin, 27 November 2023
kingdoms during the Hindu-Buddhist era

   Mungkin sahabat Pustaka Pengetahuan pernah mendengar atau malah sudah pernah berkunjung di suatu tempat yang disebut Trowulan di Mojokerto. Kompleks Trowulan inilah yang diperkirakan dulu menjadi pusat pemerintahan  Kerajaan  Majapahit.  Beberapa  situs  yang  dapat kita temukan sekarang misalnya ada pendhopo, segaran, Candi Bajang Ratu dan sebagainya. Jika sahabat Pustaka Pengetahuan bayangkan Majapahit tempo dulu merupakan kerajaan yang luas dan sudah menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan di luar  Kepulauan  Indonesia. Bahkan Mohammad  Yamin  menyebut Kerajaan Majapahit  itu  sebagai Kerajaan Nasional kedua. Bayangkan pula tokoh besar seperti Patih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk yang berhasil mempersatukan Nusantara. Bahkan hingga saat ini kebesaran Patih Gajah Mada masih melekat dalam ingatan kita, hingga makam Patih Gajah Mada oleh masyakarat Lombok Timur dipercaya berada di kompleks pemakaman Raja Selaparang. 

Kerajaan Kutai 

kerajaan kutai

Jika kita bicara soal perkembangan Kerajaan Kutai, tidak lepas dari sosok Raja Mulawarman. Perlu dipahami bahwa keberadaan Kerajaan  Kutai ini dipandang sebagai kerajaan Hindu-Buddha yang pertama di Indonesia. Kerajaan Kutai diperkirakan terletak di daerah Muarakaman di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai Mahakam merupakan sungai yang cukup besar dan memiliki beberapa anak sungai. Daerah di sekitar tempat pertemuan antara Sungai Mahakam dengan anak sungainya  diperkirakan  merupakan  letak  Muarakaman  dahulu. Sungai  Mahakam  dapat  dilayari dari pantai  sampai masuk ke Muarakaman,  sehingga  baik  untuk  perdagangan.  

   Dalam memahami perkembangan Kerajaan   Kutai   itu,   tentu   memerlukan  sumber sejarah yang dapat menjelaskannya.  Sumber sejarah Kutai yang utama adalah  prasasti yang disebut yupa, yaitu berupa  batu  bertulis.  Yupa  juga  sebagai  tugu  peringatan dari upacara kurban. Yupa ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Prasasti Yupa ditulis dengan  huruf   pallawa   dan   bahasa   sanskerta. Dengan  melihat  bentuk  hurufnya,  para  ahli berpendapat bahwa yupa dibuat sekitar abad ke-5 M. 

Hal menarik dalam prasasti itu adalah disebutkannya  nama  kakek  Mulawarman yang bernama Kudungga. Kudungga berarti penguasa lokal yang setelah terkena pengaruh Hindu-Buddha daerahnya berubah menjadi kerajaan. Walaupun sudah mendapat pengaruh Hindu-Buddha namanya tetap Kudungga berbeda dengan puteranya   yang   bernama Aswawarman dan cucunya yang bernama Mulawarman. Oleh karena itu, yang terkenal sebagai wangsakerta  adalah  Aswawarman.  

      Diterangkan bahwa Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman. Raja Aswawarman dikatakan seperti Dewa Ansuman (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga anak, tetapi yang  terkenal  adalah  Mulawarman.  Raja Mulawarman dikatakan sebagai raja yang terbesar di Kutai. Ia pemeluk agama Hindu-Siwa yang setia. Tempat sucinya dinamakan Waprakeswara.  Ia  juga  dikenal  sebagai raja   yang   sangat   dekat   dengan   kaum Brahmana  dan  rakyat.  Raja  Mulawarman sangat dermawan. Ia mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor lembu untuk para Brahmana. Oleh karena itu, sebagai rasa terima kasih dan peringatan mengenai upacara kurban, para Brahmana mendirikan sebuah yupa. Pada  masa  pemerintahan  Mulawarman,  Kutai  mengalami zaman keemasan. 

Adapun kehidupan ekonomi pun mengalami perkembangan. Kutai terletak di tepi  sungai, sehingga masyarakatnya melakukan pertanian. Selain itu, mereka banyak yang melakukan perdagangan. Bahkan diperkirakan sudah terjadi hubungan dagang dengan luar. Jalur perdagangan internasional dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina dan sampai di Cina. Dalam pelayarannya dimungkinkan para pedagang itu singgah terlebih dahulu di Kutai. Dengan demikian, Kutai semakin ramai dan rakyat hidup makmur. 

Satu di antara yupa di Kerajaan Kutai berisi keterangan  yang  artinya:“Sang  Mulawarman,  raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi  sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana  yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang  sangat suci (bernama) Waprakeswara”.  

Kerajaan Tarumanegara.

kerajaan tarumanegara

Adapun sejarah tertua yang berkaitan dengan pengendalian banjir dan sistem pengairan adalah pada masa Kerajaan Tarumanegara. Untuk mengendalikan banjir dan usaha pertanian yang diduga di wilayah Jakarta saat ini, maka Raja Purnawarman menggali Sungai Candrabaga. Setelah selesai melakukan penggalian sungai maka raja  mempersembahkan  1.000  ekor  lembu  kepada  brahmana. Berkat sungai itulah penduduk Tarumanegara menjadi makmur.

Raja yang terkenal dari kerajaan Tarumanegara adalah Purnawarman. Perlu dipahami bahwa setelah Kerajaan Kutai berkembang di Kalimantan  Timur, di Jawa  bagian barat muncul Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini terletak tidak jauh dari pantai utara Jawa bagian barat. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan letak pusat Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berada di antara Sungai Citarum dan Cisadane. Kalau mengingat namanya Tarumanegara, dan kata taruma mungkin berkaitan dengan kata tarum yang artinya nila. Kata tarum dipakai sebagai nama sebuah sungai di Jawa Barat, yakni Sungai Citarum. Mungkin juga letak Tarumanegara dekat dengan  aliran  Sungai  Citarum.  Kemudian  berdasarkan  prasasti Tugu, Purbacaraka memperkirakan pusat Kerajaan Tarumanegara ada di daerah Bekasi. 

Sumber sejarah Tarumanegara yang utama adalah beberapa prasasti yang telah ditemukan. Berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Tarumanegara,  telah  ditemukan  tujuh  buah  prasasti. Prasasti-prasasti  itu  berhuruf  Pallawa  dan  berbahasa  Sanskerta.

Kerajaan Kalingga 

kerajaan kalingga

Adapun penguasa dari Kerajaan Kalingga adalah Ratu Sima. Ratu Sima digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita yang tegas dan taat terhadap peraturan yang berlaku dalam kerajaan itu. Kerajaan Kalingga atau Holing, diperkirakan terletak di Jawa bagian tengah. Nama Kalingga berasal dari Kalinga, nama sebuah kerajaan di India Selatan. Menurut berita Cina, di sebelah timur Kalingga ada Po- li (Bali sekarang), di sebelah barat Kalingga terdapat To-po-Teng (Sumatra). Sementara di sebelah utara Kalingga terdapat Chen-la (Kamboja) dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra. Oleh karena itu, lokasi Kerajaan Kalingga diperkirakan terletak di Kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah atau di sebelah utara Gunung Muria. 

Adapun sumber utama mengenai Kerajaan Kalingga adalah berita Cina, misalnya berita dari Dinasti T’ang. Sumber lain adalah Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merbabu. Melalui berita Cina, banyak hal yang kita ketahui tentang perkembangan Kerajaan Kalingga dan kehidupan masyarakatnya. Kerajaan Kalingga berkembang kira-kira abad ke-7 sampai ke-9 M. 

Kerajaan Sriwijaya 

kerajaan sriwijaya

   Sejak permulaan tarikh Masehi, hubungan dagang antara India dengan Kepulauan Indonesia sudah ramai. Daerah pantai timur  Sumatra menjadi jalur perdagangan yang ramai dikunjungi para pedagang. Kemudian, muncul pusat-pusat perdagangan yang berkembang menjadi pusat kerajaan. Kerajaan-kerajaan kecil di pantai Sumatra bagian timur sekitar abad ke-7, antara lain Tulangbawang, Melayu, dan Sriwijaya. Dari ketiga kerajaan itu, yang  kemudian  berhasil  berkembang dan mencapai kejayaannya adalah Sriwijaya. Kerajaan Melayu juga sempat berkembang, dengan pusatnya   di Jambi. 

Pada tahun 692 M, Sriwijaya mengadakan ekspansi ke daerah sekitar Melayu. Melayu dapat ditaklukkan dan berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Letak pusat Kerajaan Sriwijaya ada berbagai pendapat. Ada yang berpendapat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang, ada yang berpendapat di Jambi, bahkan ada yang berpendapat di luar Indonesia. Akan tetapi, pendapat yang banyak didukung oleh para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya berlokasi di Palembang, di dekat pantai dan di tepi Sungai Musi. Ketika pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang mulai menunjukkan kemunduran, Sriwijaya berpindah ke Jambi. Adapun sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya yang penting adalah prasasti. Prasasti-prasasti itu ditulis dengan huruf Pallawa. Bahasa yang dipakai Melayu Kuno. 

Kerajaan Mataram Kuno

peninggalan kerajaan mataram kuno

       Pada pertengahan abad ke-8 di Jawa bagian tengah berdiri sebuah kerajaan baru. Kerajaan itu kita kenal dengan nama Kerajaan Mataram Kuno. Mengenai letak dan pusat Kerajaan Mataram Kuno tepatnya belum dapat dipastikan. Ada yang menyebutkan pusat kerajaan di Medang dan terletak di Poh Pitu. Sementara itu letak Poh Pitu sampai sekarang belum jelas. Keberadaan lokasi kerajaan itu dapat diterangkan berada di sekeliling pegunungan, dan sungai- sungai. Di sebelah utara  terdapat  Gunung  Merapi,  Merbabu, Sumbing,  dan  Sindoro;  di  sebelah  barat  terdapat  Pegunungan Serayu; di sebelah timur terdapat Gunung Lawu, serta di sebelah selatan berdekatan dengan Laut Selatan dan Pegunungan Seribu. Sungai-sungai yang ada, misalnya Sungai Bogowonto, Elo, Progo, Opak, dan Bengawan Solo. Letak Poh Pitu mungkin di antara Kedu sampai sekitar Prambanan.  

    Untuk mengetahui perkembangan Kerajaan Mataram Kuno dapat  digunakan  sumber  yang  berupa  prasasti.  Ada  beberapa prasasti  yang  berkaitan  dengan  Kerajaan  Mataram  Kuno  di antaranya Prasasti Canggal, Prasasti Kalasan, Prasasti Klura, Prasasti Kedu atau Prasasti Balitung. Di samping beberapa prasasti tersebut, sumber sejarah untuk Kerajaan Mataram Kuno juga berasal dari berita Cina.


Demikianlah artikel yang berjudul Kerajaan Pada Masa Hindu-Buddha. Apabila ada kekurangan ataupun kekeliruan dalam penulisan artikel ini, Pustaka Pengetahuan mengucapkan mohon maaf yang sebesar - besarnya. Silahkan tinggalkan pesan yang bijak pada kolom komentar yang tersedia. Terima kasih sudah mengunjungi, semoga bermanfaat.

Bahan bacaan lainnya, jika membantu tugas sekolah silahkan klik Berbagai Reviews 

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, silahkan klik Baraja Farm 

Tutorial cara budidaya silahkan klik Baraja Farm Channel  

Media sosial silahkan klik facebook.com 

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar