pustakapengetahuan.com

pustakapengetahuan.com

Sabtu, 14 Mei 2022

 Mata Pelajaran Biologi : SOAL PENILAIAN HARIAN EKOLOGI

Mata Pelajaran Biologi : SOAL PENILAIAN HARIAN EKOLOGI

SOAL PENILAIAN HARIAN EKOLOGI

SMA

TAHUN AJARAN 2021/2022

Mata Pelajaran:  BIOLOGI

Kelas :  x


A. Pilihlah jawaban yang tepat !

1. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya disebut....

a. Ekologi

b. Fisiologi

c. Mikrobiologi

d. Ekosistem

e. Anatomi 


2. Yang termasuk komponen biotik untuk ekosistem sawah adalah….

a. katak

b. PH

c. Cahaya matahari

d. Ikan teri

e. Cacing


3. Dalam suatu ekositem kolam terdapat :

(1) Ikan karnivora

(2) Bakteri pengurai

(3) Ikan herbivora

(4) Zat-zat organik

(5) Fitoplankton

Dari komponen ekosistem tersebut dapat disusun suatu rantai makanan dengan susunan…

a. 5 – 3 – 2 – 1 – 4

b. 3 – 4 – 5 – 1 – 2

c. 2 – 3 – 5 – 4 – 1

d. 4 – 5 – 1 – 2 – 3

e. 5 – 3 – 1 – 4 – 2


4. Kelompok tumbuhan sejenis yang hidup di sebidang sawah dan saling berinteraksi dengan Makhluk hidup dan komponen abiotik dilingkungannya, berdasarkan konsep ekologi dinamakan....

a. Individu

b. Komunitas

c. Populasi

d. Ekosistem

e. Bioma


5. Diantara tingkatan tropik berikut yang termasuk dekomposer  adalah ….

a. Padi

b. Keluwing

c. Kelelawar

d. Salinitas 

e. Elang


6. Perhatikan gambar jaring-jaring makanan dibawah ini !

soal - soal biologi

Jika populasi zooplankton bertambah, maka akan diikuti penurunan populasi....

a. Ikan besar

b. Ikan kecil

c. Fitoplankton

d. Pengurai 

e. Udang 


7. Perhatikan piramida ekologi berikut.

soal - soal pelajaran biologi

Jika populasi tingkat I punah, akan mengakibatkan populasi tingkat ….

a. III meningkat, I turun, IV meningkat

b. II turun, III turun, IV turun

c. III turun, I meningkat, IV turun

d. III turun, I meningkat, IV meningkat

e. III meningkat, I meningkat, IV turun


8. Tumbuhan anggrek hidup  pada tanaman kelapa , bertujuan mendapatkan cahaya matahari tanpa mengambil makananan dari kelapa interaksi tsb dikenal cara simbiosis....

a. Amensalisme 

b. Mutualisme

c. Komensalisme 

d. Netralisme 

e. Kompetisi 


9. Hubungan antara kelinci dengan serigala di padang rumput, termasuk termasuk simbiosis...

a. Parasitisme

b. Komensalisme

c. Mutualisme

d. Netralisme

e. Predasi 


10. Berikut ini merupakan ciri-ciri berbagai bioma:

(1) Curah hujan tinggi

(2) Curah hujan rendah

(3) Jenis tumbuhan heterogen

(4) Tumbuhan dominan sukulen

(5) Matahari bersinar sepanjang tahun

(6) Porositas tinggi


Ciri bioma gurun adalah ….

a. 1, 2, 3, dan 5

b. 1, 3, 4, dan 5

c. 2, 3, 4, dan 5

d. 2, 4, 5, dan 6

e. 3, 4, 5, dan 6


11. Berikut ini ciri-ciri ekosistem darat 

1) Mengalami pergantian musim

2) Curah hujan sangat rendah

3) Terdapat didaerah temperate

4) Fauna terdiri dari karnivora besar

5) Tumbuhan berdaun kecil (berbentuk jarum)


Berdasarkan uraian diatas, merupakan ciri-ciri Bioma ....

a. Hutan hujan tropis

b. Hutan gugur

c. Taiga

d. Tundra

e. Gurun 


12. Daerah perairan dalam, tidak tembus cahaya matahari, dan banyak ditemui dekomposer disebut...

a. Litoral

b. Neritik

c. Limnetik

d. Profundal

e. Pelagik


13. Daerah perairan yang terdapat pada wilayah pertemuan antara sungai dan laut, berair payau dan didominasi oleh tumbuhan bakau disebut...

a. Litoral

b. Limnetik

c. Neritik

d. Profundal

e. Pelagik 


14. Air yang ada di permukaan bumi, mulai dari yang berada di daratan, laut, sungai dan bahkan yang berada ditanaman akan menguap ke atmosfer dan menjadi awan. Tahap ini pada siklus hidrologi dinamakan ....

a. Evaporasi 

b. Kondensasi

c. Presipitasi

d. Infiltrasi 

e. Sublimasi 


15. Suatu proses atau perputaran siklus yang didalamnya berlangsung penggunaan dan pelepasan unsur-unsur anorganik yang esensial bagi tubuh dan melibatkan peristiwa biologis, geologis dan kimia merupakan pengertian daur...

a. Fosfor

b. Nitrogen 

c. Karbon

d. Biogeokimia 

e. Hidrologi 


16. Perhatikan daur nitrogen berikut 

soal -soal biologi

Proses yang terjadi pada nomor I dan III secara berturut-turut adalah....

a. Denitrifikasi dan fiksasi nitrogen

b. Nitrifikasi dan denitrifikasi 

c. Nitrifikasi dan denitrifikasi

d. Fiksasi nitrogen dan amonifikasi

e. Amonifikasi dan fiksasi


17. Bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman polong-polongan dan mampu mengikat nitrogen bebas diudara yaitu...

a. Nitrosomonas

b. Nitrobacter

c. Escherichia Coli

d. Rhizobium

e. Salmonella 


18. Urutan daur nitrogen yang benar yaitu....

a. Fiksasi nitrogen, nitrifikasi, amonifikasi, denitrifikasi

b. Fiksasi nitrogen, amonifikasi, nitrifikasi, denitrifikasi

c. Nitrifikasi, fiksasi nitrogen, amonifikasi, denitrifikasi

d. Nitrifikasi, amonifikasi, denitrifikasi, fiksasi nitrogen

e. Amonifikasi, nitrifikasi, fiksasi nitrogen, denitrifikasi


19. Perhatikan siklus Karbon berikut 

 

soal mata pelajaran biologi

Proses yang terjadi pada Y secara adalah...

a. respirasi 

b. fotosintesis

c. transpirasi

d. fermentasi 

e. evaporasi 


20. Akibat meletusnya gunung Semeru telah membuat lahar panasnya membuat  kebakaran lahan didesa Wonosari, hal ini merupakan contoh suksesi ....

a. primer

b. sekunder

c. tersier

d. cadangan

e. erosi

Sejarah Pelaksanaan Ibadah Tradisi Aqiqah

Sejarah Pelaksanaan Ibadah Tradisi Aqiqah

tata cara melaksanakan ibadah aqiqah

Kita tentu tidak asing lagi dengan istilah kata "Aqiqah". Apalagi jika kita hidup di wilayah Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar dunia. Sudah tentu kita sering menjumpai acara - acara Aqiqah ataupun bagian keluarga kita sendiri yang sedang mengadakan hajatan Aqiqah. Dari setiap manusia yang telah baru saja dilahirkan ke dunia ini pada prinsipnya ia tergadai (menjadi tanggungan) dengan aqiqahnya sampai saat disembelihkan hewan berupa domba atau kambing untuknya di  hari ketujuh, dicukur dan diberi nama.

Setiap rangkaian ibadah yang kita jalankan sebagai umat Islam saat sekarang ini, apa pernah juga dipraktekan pada zaman dulu?. Malahan, studi menunjukan sejumlah praktek ibadah sudah berlangsung dari zaman Nabi Adam AS. Ibadah yang wajib (fardu) yang sudah kita jalankan dalam keseharian pun, pernah pula dilakukan oleh umat-umat zaman nabi sebelumnya. Seperti ibadah puasa, shalat, haji, kurban, wudhu, sampai aqiqah. Dan ritual ibadah tersebut kemudian disempurnakan oleh Allah melalui wahyu yang diberikan pada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW.

Sebagai salah satu ibadah sunnah yang ternyata sudah berlangsung sejak dulu yang kemudian dipraktekan juga oleh Rasulullah SAW, adalah ibadah aqiqah. Aqiqah jika menggunakan istilah agama maknanya penyembelihan hewan buat anak yang baru lahir sebagai wujud syukur orang tua pada Allah SWT atas amanah yang diberikan, tentu dengan niat serta syarat-syarat tertentu. Sebagian ulama menyebut aqiqah dengan kata nasikah atau dzabihah, yaitu hewan yang disembelih.

Dalam tradisi ibadah Aqiqah ini umumnya atau afdhalnya dianjurkan pada hari ketujuh, ke-14, ke-21, atau hari kapanpun saat orang tua merasa mampu untuk mengaqiqahkan anaknya. Daging aqiqah biasanya dibagikan pada tetangga dan kerabat atau jika ingin pahala lebih bisa juga disedekahkan kepada anak yatim dan fakir miskin, sebagaimana daging kurban. Meskipun tidak terlalu banyak kitab/literatur yang menyinggung hal ini, kemungkinan besar ibadah aqiqah berakar dari sejarah kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim AS.

Dalam syariat aqiqah sendiri sudah dikenal dan dilakukan masyarakat zaman jahiliyah, namun tentunya cara yang dipraktekan berbeda dengan syariah Nabi SAW. Sejumlah riwayat menuturkan, sejarah aqiqah sebenarnya pernah juga berlangsung di masa jahiliyah. Mereka mempraktekan “aqiqah” buat anaknya yang baru lahir, umumnya anak laki-laki.


Sejarah Aqiqah Dari Masa Ke Masa.


sejarah akikah

Dalam upacara aqiqah sebenarnya bermula dari Millah Nabi Ibrahim Alaihisalam bersama anaknya Nabi Ismail As. Ketika Nabi Ismail berusia 13 tahun dan Nabi Ibrahim 96 tahunm atas dasar wahyu Allah, Nabi Ibrahim menyuruh Nabi Ismail menyembelih seekor kambing yang digembalakannya sebagai penebusan terhadap diri Ismail (akikah). Domba yang disembelih merupakan yang terbaik. Pada saat yang sama, Nabi Ismail dikhitan. Aqiqah disandarkan pada tradisi agung Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW.

Pada peristiwa ini, bahwa Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengkurbankan anaknya yang bernama Ismail untuk dalam mimpi Nabi Ibrahim sendiri kepada Tuhan lalu Ibrahim dan Ismail tunduk pada perintah Tuhan dengan sabar. Akhirnya dilakukan penyembelihan Ismail yang lalu dibatalkan oleh Allah dengan menyatakan bahwa kurban Ibrahim secara hakiki sudah diterima Allah SAW. 

Selanjutnya, Allah menganugerahkan tebusan atas Ismail dengan digantikan seekor domba besar. Mengapa Allah SWT memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail dan kemudian membatalkannya? Saat itu, Nabi Ibrahim hidup pada masa penyimpangan pemikiran manusia yang mengorbankan manusia kepada Tuhan yang disembahnya sebagai sesaji. 

Paa masa kerajaan di Mesir, gadis cantik dipersembahkan untuk Dewa Sungai Nil. Di Kana'an, Irak bayi dipersembahkan untuk Dewa Baal dan di Meksiko, darah dan jantung manusia dipersembahkan untuk Dewa Matahari dan di Jawa ada upacara pancamakara yakni pengorbanan darah manusia bagi Sang Bhumi. Karena itu, pada masa Nabi Ibrahim AS, Allah SWt mengajarkan kepada manusia bahwa tidak diperbolehkan jiwa manusia dan darahnya dikorbankan sebagai sesaji kepada-Nya. Lambang berkurban kepada Allah diganti dengan hewan ternak yang sempurna.

Pada proses “aqiqah” yang mereka lakukan yaitu menyembelih kambing kemudian darahnya dilumurkan pada kepala bayi tersebut.

Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis:

Dulu (adat) kami pada masa jahiliyah jika salah seorang di antara kami melahirkan anak, maka ia menyembelih kambing kemudian melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Setelah Allah menghadirkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala sang bayi, dan melumurinya menggunakan minyak wangi.” (HR Abu Dawud dari Buraidah).

Hadis di atas diperkuat dengan riwayat Ibnu Hibban: “Dari Aisyah RA, ia berkata, ‘Dulu (budaya) orang-orang masa jahiliyah jika mereka beraqiqah seorang bayi, mereka melumuri (kain) kapas dengan darah hewan tersebut, kemudia saat mencukur rambut bayi mereka melumurkan (kain kapas) pada kepalanya’. Lalu Nabi SAW bersabda, ‘Gantilah darah tersebut dengan minyak wangi’.”

Dalam sejarah Aqiqah Islam tercatat bahwa Rasulullah SAW menggelar syukuran aqiqah untuk kedua cucunya anak dari Fatimah dan Ali yaitu Hasan dan Husein.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW mengadakan Aqiqah (menyembelih) dalam hal kelahiran Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husein bin Ali bin Abi Thalib masing - masing satu kambing. Lalu kemudian ajaran aqiqah ini pun diikuti oleh sahabat, tabiin, tabiit tabiin, maupun pada masa-masa berikutnya sampai sekarang.


Hukum Aqiqah Perspekstif Sejarah Aqiqah

Para ulama - ulama masyhur memilik pandangan yang berbeda menetapkan hukum aqiqah. Perbedaan pandangan ini muncul karena adanya perbedaan pemahaman tafsir hadis-hadis yang berkenaan dengan persoalan ini. Aqiqah dihukumi wajib menurut sebagian ulama dan ada pula yang sunah muakkadah (sangat utama).

Ulama Zahiriyah berpandangan bahwa melaksanakan aqiqah itu wajib bagi tiap orang tua yang menanggung nafkah si anak. Dasar hukum yang digunakan adalah hadis Rasul SAW riwayat Ahmad dan Tirmidzi.

Berikut haditsnya:

Anak yang baru lahir itu tergadai dengan aqiqahnya, (sampai ia) disembelihkan (hewan) pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, dan saat itu juga baiknya cukur rambutnya lalu diberi nama.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Sementara ulama jumhur (mayoritas) berpandangan, aqiqah itu hukumnya sunnah muakkadah atau sunnah yang sebaiknya dikerjakan.

Jumhur ulama ini meliputi pandangan Imam Malik, Imam Syafii , termasuk para pengikutnya, ulama Madinah, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Saur, Ishaq, dan sejumlah ahli fikih serta mujtahid (ahli ijtihad).

Pendapat ini dasarmya sabda Nabi SAW, “Barang siapa di antara kamu ingin bersedekah buat anaknya, bolehlah ia berbuat.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai).

Di sisi lain, para ahli fikih (fukaha) yang bermadzhab Abu Hanifah (Imam Hanafi) berpandangan bahwa aqiqah itu tidak wajib dan tidak sunnah.

Melainkan adalah ibadah tatawwu’ (sukarela). Pendapat ini landasannya adalah hadis Nabi SAW: “Aku tidak suka sembelih-sembelihan (aqiqah). Namun, barang siapa diamanahi seorang anak, kemudian ia hendak menyembelih hewan bagi anaknya itu, maka ia dipersilakan melakuka itu” (HR al-Baihaki).


Tata Cara Melaksanakan Aqiqah.


sejarah akikah

Jika dilihat dari buku Ritual dan Tradisi Islam Jawa karya KH Muhammad Sholikhin, aqiqah berasal dari kata 'Uquq yang memiliki beragam arti yaitu permata akik, putus, durhaka dan juga berarti rambut yang tumbuh di kepala bayi. Dalam konteks hukum Islam atau Fiqih, makna tersebut yang terpakai yakni rambut bayi yang baru lahir dicukur disertai dengan penyembelihan kambing untuknya. Adapun pelaksanaan pemotongan rambut ini oleh Rasulullah SAW disunnahkan dilakukan pada hari ketujuh dari hari kelahiran. Hal ini menurut Jumhur Ulama memiliki status hukum sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dimutamakan (semi wajib). 

Dengan demikian, urut - urutan tata cara aqiqah terlebih dulu dengan menyembelih hewan akikah. Bagi laki-laki dua ekor kambing dan bagi anak perempuan satu ekor yang persyaratannya sama dengan hewan kurban. Perbedaannya jika pada kurban daging disunnahkan menyedekahkan sebelum dimasak, namun pada Aqiqah menyedekahkannya kepada orang setelah daging dimasak. Setelah penyembelihan hewan, selanjutnya upacara pemotongan rambut bayi dan diberikan nama yang sebaik-baiknya.


Demikianlah artikel tentang "Sejarah Aqiqah" yang dapat pustakapengetahuan.com sampaikan. Apabila ada kesalahan dan kekurangannya, mohon tinggalkan pesan ataupun komentar yang sifatnya untuk memperbaiki ataupun menambah dalam hal kekurangan artikel ini. Terima ksih sudah mampir dan semoga bermanfaat.

Minggu, 01 Mei 2022

Pengertian Zakat Fitrah Dan Ketentuan Zakat Fitrah

Pengertian Zakat Fitrah Dan Ketentuan Zakat Fitrah

 

ketentuan zakat fitrah

Seorang muslim dalam membayar zakat merupakan salah satu rukun Islam yang perlu dipenuhi untuk menyempurnakan ibadah yang dilakukan. Salah satu jenis zakat yang dikeluarkan di akhir bulan Ramadhan sebelum shalat Idul Fitri adalah zakat Fitrah. Dan ada juga zakat yang dikeluarkan selain dari zakat fitrah yaitu zakat mal. Kedua jenis zakat tersebut wajib dikeluarkan atau ditunaikan oleh seorang muslim sesuai ketentuan dan waktunya. Seperti yang sudah dikatakan, untuk zakat fitrah sendiri, biasanya wajib ditunaikan menjelang hadirnya bulan Syawal atau mendekati lebaran .

 Zakat Fitrah mempunyai arti mensucikan dan mengembalikan kepada suci. Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan bagi setiap jiwa baik perempuan maupun laki-laki muslim pada setiap bulan Ramadhan sebagaimana hadist berikut:


"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas umat muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau saw memerintahkannya dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat.” (HR Bukhari Muslim).


Maka dari itu, menunaian zakat fitrah selain sebagai sarana mensucikan diri setelah menunaikan ibadah selama bulan Ramadhan tetapi juga diartikan sebagai tanda kepedulian antar sesama menjelang perayaan hari raya kepada mereka yang kurang mampu. Sehingga kebahagiaan dan kemenangan bisa dirasakan oleh setiap muslim.


Pengertian Zakat Fitrah

Jika diartikan secara umum, Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh umat Islam baik laki-laki, perempuan, besar atau kecil, merdeka atau budak, tua dan muda, pada awal bulan ramadhan sampai menjelang idul fitri. Zakat fitrah dikeluarkan berupa makanan pokok  yang dibayarkan sebanyak 3,2 liter, atau 2,5 kg. Tujuan zakat fitrah adalah untuk membersihkan jiwa atau menyucikan diri dari dosa-dosanya dan memberikan makan bagi fakir miskin. 

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menjelaskan bahwa zakat fitrah atau zakat al-fitr merupakan salah satu jenis zakat yang diwajibkan kepada setiap manusia, baik lelaki dan juga perempuan muslim. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, pembayaran zakat fitrah ini dilakukan pada bulan Ramadhan dalam menyambut Idul Fitri. Sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra. Dalam prinsipnya, zakat fitrah wajib untuk dibayarkan sebelum salat Idul Fitri dilangsungkan. Prinsip tersebut juga yang jadi faktor pembeda dari zakat fitrah dengan zakat lainnya.

Setiap umat muslim diwajibkan untuk membayar zakat fitrah. Dalam hal ini, zakat tersebut bertujuan untuk mensucikan harta serta diri manusia setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Namun di luar tujuan tersebut, zakat fitrah juga dapat dianggap sebagai bentuk rasa peduli manusia terhadap orang yang kurang mampu. Tujuan sosial ini hadir untuk berbagi rasa kebahagiaan dalam menyambut suasana kemenangan di hari raya Idul Fitri yang patut untuk dirasakan oleh seluruh kalangan masyarakat dari berbagai latar belakang. 


Hukum Membayar Zakat Fitrah.

Dalam menunaikan zakat fitrah hukumnya wajib bagi orang-orang yang mampu. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muttafaq ‘alaih (Imam Bukhori dan Imam Muslim), disebutkan bahwa:


“Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan untuk zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, baik itu kepada budak, orang merdeka, orang laki-laki, orang perempuan, anak kecil serta orang dewasa yang dari kalangan muslim. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan zakat tersebut untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk mengerjakan salat idul fitri”. (HR. Bukhari)


Selain itu, perintah zakat fitrah juga disampaikan dalam hadis Nabi, dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah, sebagai pembersih bari orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan jorok serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum salat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah salat id maka hanya menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Daud, Ad Daruquthni dan dishahihkan Al Albani).


Jadi, zakat fitrah dikeluarkan pada bulan Ramadan, paling lambat sebelum orang-orang selesai menunaikan Salat Idul Fitri. Jika waktu penyerahan melewati batas ini maka yang diserahkan tersebut tidak termasuk dalam kategori zakat melainkan sedekah biasa. Membayar zakat fitrah atau zakat fitri adalah hukumnya wajib ain yang artinya wajib bagi umat muslim laki-laki, perempuan, tua atau muda.


Rukun - Rukun Zakat Fitrah

  • Niat untuk menunaikan zakat fitrah dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
  • Terdapat pemberi zakat fitrah atau musakki.
  • Terdapat penerima zakat fitrah atau mustahik.
  • Terdapat makanan pokok yang dizakatkan.
  • Besar zakat fitrah yang dikeluarkan sesuai agama Islam.


Syarat Menunaikan Zakat Fitrah

Zakat fitrah sebagai bagian dari ibadah, mempunyai syarat - syarat zakat yang perlu dipenuhi oleh para pemberi zakat atau muzakki. Syarat ini perlu dipelajari dan diamalkan dengan baik agar zakat yang Anda lakukan sah dan manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh para penerima zakat. Dalam syarat-syarat zakat fitrah ini pun ada syarat wajib dan tidak wajib yang perlu diperhatikan untuk bisa dipenuhi dengan baik.


Syarat wajib

  • Beragama Islam dan Merdeka
  • Menemui dua waktu yaitu diantara bulan Ramadhan dan Syawal walaupun hanya sesaat
  • Mempunyai harta yang lebih dari pada kebutuhannya sehari-hari untuk dirinya dan orang-orang di bawah tanggungan pada hari raya dan malamnya
  • Ketentuan tidak wajib membayar zakat fitrah
  • Orang yang meninggal sebelum terbenam matahari pada akhir Ramadhan
  • Anak yang lahir selepas terbenam matahari pada akhir Ramadhan
  • Orang yang baru memeluk agama Islam sesudah matahari terbenam pada akhir Ramadhan
  • Tanggungan istri yang baru saja dinikahi selepas matahari terbenam pada akhir Ramadhan

Dalam syarat tersebut tertulis bahwa Anda sebagai pemberi zakat atau muzakki perlu memiliki harta lebih dari kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, dianjurkan bagi Anda untuk memiliki pengelolaan keuangan yang baik, sehingga kebutuhan sehari-hari dapat terus terpenuhi. 


Waktu pembayaran zakat fitrah

Zakat fitrah mempunyai ketentuan waktu yang perlu kita tepati. Karena zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum kita mulai melangsungkan ibadah salat Idul Fitri. Maka dari itu, biasanya pengumuman mengenai pembayaran zakat fitrah sudah mulai diinformasikan di lingkungan tempat tinggal dalam beberapa hari sebelum datangnya hari raya Idul Fitri. Namun ternyata, ada ketentuan waktu yang bisa jadi informasi penting ketika Anda nantinya hendak menunaikan zakat fitrah.


Jenis dan nominal zakat fitrah

Untuk melaksanakan pengeluran zakat fitrah, kita juga harus mengetahui berapa besaran jumlah atau kadar zakat yang perlu Anda keluarkan. Perlu Anda ketahui bahwa besaran jumlah atau kadar ini dihitung per individu. Jika Anda menanggung kewajiban bayar zakat untuk keluarga maka jumlah tersebut pun perlu untuk diakumulasikan sesuai dengan jumlah keluarga yang Anda tanggung di rumah.

Secara umumnya, jenis zakat yang perlu dikeluarkan harus disesuaikan dengan jenis makanan pokok yang berlaku. Untuk Indonesia sendiri, jenis makanan pokok yang perlu ditunaikan adalah beras. Setiap umat muslim, mulai dari balita hingga orang dewasa punya kewajiban membayar zakat fitrah dengan kadar 3.5 liter atau 2.5 kg beras. Namun ketentuan pemberian beras tersebut pun bisa diganti dengan uang. Baznas selaku penyelenggara dan pengawas zakat di Indonesia baru saja mengeluarkan peraturan terbaru terkait nominal uang yang perlu dikeluarkan saat zakat fitrah. Berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 7 Tahun 2021 tentang Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah Ibukota DKI Jakarta Raya dan Sekitarnya, dalam peraturan tersebut ditetapkan bahwa nilai zakat fitrah setara dengan uang sebesar Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah) per orangnya. 

Untuk menunaikan zakat fitrah ini, kita bisa menyalurkan kewajiban melalui masjid terdekat yang ada di lingkungan rumah atau kepada lembaga amil zakat yang terpercaya. Sebelum membayarkan zakat, ada niat yang perlu yang kita ucapkan. Kita bisa mencari niat zakat fitrah secara online atau bisa dipandu dengan pihak perwakilan masjid atau lembaga amil zakat yang akan mengelola zakat yang Anda keluarkan. Nantinya zakat yang terkumpul akan disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama dalam aspek pangan. 


Golongan Orang - Orang Berhak Menerima Zakat Fitrah

Orang - orang yang berhak menerima zakat fitrah tersebut juga disebut sebagai mustahiq. Orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah ini, karena sudah dijelaskan dan ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat At Taubah ayat 60. 

Zakat fitra yang merupakan sebagai instrumen yang masuk dalam salah satu Rukun Islam, zakat tentu saja memiliki aturan mengikat dari segi ilmu fiqihnya, salah satu diantaranya adalah kepada siapa zakat diberikan. Dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah memberikan ketentuan ada delapan golongan orang yang menerima zakat yaitu sebagai berikut:

  • Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
  • Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan.
  • Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.
  • Mualaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah.
  • Riqab, budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya.
  • Gharimin, mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya.
  • Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya.
  • Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah.


Mengenai cara membayar zakat fitrah cukup langsung datang menemui orang orang yang berhak menerimanya atau dengan membayarkannya melalui amil zakat. Biasanya di masjid-masjid disediakan amil zakat untuk menerima zakat khusus zakat fitrah saat masa akhir bulan Ramadan sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Namun kita juga harus mengetahui bahwa ada dua golongan yang tidak diperbolehkan menerima zakat, yaitu anak cucu atau keluarga Nabi Muhammad SAW serta keluarga orang yang berzakat, seperti kakek, bapak, istri, anak, cucu dan lain sebagainya.


Demikianlah artikel tentang "Zakat Fitrah" yang dapat saya sampaikan. Apabila ada kekeliruan dan kesalahan dalam pembuatan artikel ini kami selaku pustakapengetahuan.com mengucapkan mohon maaf yang sebesar - besarnya. Silahkan tinggalkan komentar yang sifatnya membangun atau memperbaiki artikel ini. Terima kasih sudah mampir, semoga bermanfaat.

Rabu, 27 April 2022

MAKALAH KENAKALAN REMAJA LENGKAP

MAKALAH KENAKALAN REMAJA LENGKAP

juvenile delinquency


 BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Di era ini, pergaulan remaja lebih cenderung ke arah negatif, karena cara berfikir remaja yang salah. Sehigga akan mengakibatkan terjadinya kenakalan remaja. Lingkungn yang berperan penting dalam pembentukan karakter, prilaku dan tingkah laku seseorang inilah yang sangat berpengaruh. Karena Lingkungan yang baik akan membentuk pribadi yang baik pula, tetapi apabila lingkungan buruk akan membentuk pribadi yang buruk pula. Terkecuali jika kita dapat merubahnya sendiri.

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak menuju remaja dan ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan dengan cara mencoba hal-hal yang baru dikenalnya walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan diri sendiri dan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas diri. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.

Remaja merupakan aset masa depan dari suatu bangsa. Di samping hal-hal yang menggembirakan dengan kegiatan positif dan prestasi yang diraih remaja-remaja pada waktu akhir-akhir ini serta pembinaan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pelajar dan mahasiswa, kita juga melihat arus kemorosotan moral yang semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita, yang sering terkenal dengan sebutan kenakalan remaja. Dalam pemberitaan dimedia cetak dan media ditelevisi sering kali kita menemui berita tentang perkelahian pelajar, penyebaran narkotika, minuman keras, penjambret dan pencurian lainnya yang dilakukan anak-anak berusia belasan tahun serta meningkatnya kasus-kasus kehamilan di kalangan remaja putri dan lain sebagainya.

Angka kenakalan remaja yang selau meningkat, terlebih dalam bidang penyimpangan yang banyak di pengaruhi khususnya pengaruh dari luar yaitu “westernisasi” yang di pengaruhi oleh negara – negara barat, yang di negara barat sendiri yang namanya sex bebas adalah hal yang lumrah untuk di lakuhkan, ini lah yang menyebabkan kenakalan remaja dalam bidang pornografi semakin meningkat dan meraja rela di indonesia dan tidak hanya itu pengaruh teknologi – teknologi atau situs – situs yang sangat mudah untuk dalam mengakses situ porno itu sendiri.

Hal tersebut merupakan suatu masalah dari kenakalan remaja yang dihadapi oleh masyarakat yang kini semakin marak terjadi, Oleh karena itu masalah kenakalan remaja seharusnya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang tujuannya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan di kalangan remaja.

B. Rumusan Masalah

· Apa yang dimaksud kenakalan remaja itu?

· Bagaimana teori dan konsep kenakalan remaja itu?

· Apa sajakah aspek-aspek dalam kenakalan remaja itu?

· Faktor apa saja yang menyebabkan kenakalan remaja itu?

· Apa saja jenis – jenis kenakalan remaja ?

· Bagaimana cara mengatasi kenakalan remaja itu?

C. Tujuan

· Untuk mengetahui apa itu kenakalan remaja 

· Untuk mengetahui teori dan konsep kenakalan remaja

· Untuk mengetahui penyebab kenakalan remaja

· Untuk mengetahui jenis – jenis kenakalan remaja

· Dan agar dapat terhindar dari kenakalan remaja 



BAB II

PEMBAHASAN


A. Pengertian Kenakalan Remaja

       Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah Juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis, yang artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau peneror, durjana dan lain sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.

       Mussen mendefinisikan kenakalan remaja sebagai perilaku yang melanggar hukum atau kejahatan yang biasanya dilakukan oleh anak remaja yang berusia 16-18 tahun, jika perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa maka akan mendapat sangsi hukum. Hurlock juga menyatakan kenakalan remaja adalah tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja, dimana tindakan tersebut dapat membuat seseorang individu yang melakukannya masuk penjara. Sama halnya dengan Conger  dan Dusek mendefinisikan kenakalan remaja sebagai suatu kenakalan yang dilakukan oleh seseorang individu yang berumur di bawah 16 dan 18 tahun yang melakukan perilaku yang dapat dikenai sangsi atau hukuman.

       Sarwono mengungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana, sedangkan Fuhrmann menyebutkan bahwa kenakalan remaja suatu tindakan anak muda yang dapat merusak dan menggangu, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Santrock juga menambahkan kenakalan remaja sebagai kumpulan dari berbagai perilaku, dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal.

       Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kenakalan remaja adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain yang dilakukan remaja di bawah umur 17 tahun.

       Pada dasarnya kenakalan remaja adalah bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Remaja yang nakal juga dapat disebut sebagai remaja yang cacat sosial, hal ini diakibatkan karena pengaruh sosial di tengah-tengah masyarakat yang tidak baik. Kenakalan remaja biasanya berbentuk kelainan tingkah laku yang bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama, dan ketentuan yang berlaku di masyarakat.

        Dari segi hukum, kenakalan remaja dapat di kelompokkan menjadi dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum. Pertama, kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggar hukum. Kedua, kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perilaku melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.

       Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73). Bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial  yang normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat.

B. Teori dan Konsep Kenakalan Remaja

1. Teori Kenakalan Remaja

a.Social Control Theory

       Social Control Theory, berpendapat bahwa system keyakinan lah yang membimbing apa yang dilakukan oleh orang-orang dan yang secara universal mengontrol tingkah laku, tidak peduli apapun bentuk keyakinan yang dipilih adalah baik atau buruk.

b. Labelling Theory

       Labelling Theory adalah jika seseorang mendefinisikan suatu situasi adalah nyata  maka nyata pulalah konsekuensinya. Menurut teori ini ada dua bentuk penyimpangan yaitu :

1) Primary Deviance, merupakan bentuk pelanggaran pertama kali, cenderung coba-coba, tidak sengaja, tidak serius, perilaku kanak-kanak, perilaku coba-coba.

2) Secondary Deviance, merupakan pelanggaran lanjutan muncul konsep diri, cenderung reaktif, memiliki motivasi, wujud eksistensi.

       Teori Labeling memandang bahwa kejahatan merupakan akibat dari proses sosial yang terjadi di dalam masyarakat, dimana perilaku jahat dibentuk oleh warganya yang memiliki “kekuasaan”, atau sebagai cap yang diberikan oleh kelompok dominant.

c. Reintegrative Shaming Theory

       Reintegrative Shaming Theory menjelaskan bahwa pemberian rasa, malu (shaming) adalah semua proses-proses sosial yang menunjukan ketidaksetujuan yang bertujuan agar orang yang melakukan penyimpangan atau pelanggaran hukum merasa menyesal dan malu. Proses mempermalukan ini diikuti dengan upaya-upaya mengintegrasikan kembali pelaku penyimpangan atau pelanggaran hukum ke dalam masyarakat yang patuh hukum.

2. Konsep Kenakalan Remaja

       Dalam pasal 1 UU No. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, disebutkan bahwa yang dimaksud anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin (ayat 1). Sedangkan pengertian anak nakal adalah anak yang melakukan tindak pidana atau anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan (ayat 2).

       Dari pengertian tersebut, bentuk kenakalan remaja dapat bermacam-macam. Misalnya berupa kejahatan kekerasan oleh anak seperti pembunuhan dan penganiayaan, pencurian baik pencurian berat maupun pencurian ringan oleh anak, penyalahgunaan narkotika oleh anak, kejahatan seksual oleh anak, pemerasan, penggelapan, penipuan, dan bentuk-bentuk kejahatan lain yang dilakukan oleh anak. Atau dapat pula berupa perbuatan melanggar hukum lainnya seperti perkelahian pelajar atau tawuran, kebut-kebutan, dan lain-lain.

       Kajian dan analisa terhadap berbagai bentuk kenakalan remaja tersebut bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja, dengan tujuan untuk memberikan pandangan dan pemikiran tentang upaya yang tepat serta memberi perhatian khusus untuk menangani permasalahan kenakalan remaja yang telah menjadi suatu fenomena dalam kehidupan masyarakat.

C. Aspek - Aspek Kenakalan Remaja

       Para ahli psikologi dan pendidikan berpendapat bahwa permasalahan-permasalahan pada masa remaja tersebut timbul dan berkembang disebabkan:

1) Aspek Biologis: Perubahan yang cepat pada fisik-biologis, menyebabkan anak remaja bingung dengan keadaan badannya dan dorongan yang baru yang dinamakan nafsu kelamin serta adanya kesadaran akan badan yang lebih kokoh dan tenaga yang lebih kuat sehingga merasa ada kelebihan-kelebihan dalam tenaga dan kekuatan badan inilah yang menimbulkan keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

2) Aspek Psikologis: Perubahan dalam perasaan, pikiran, tanggung jawab, kemauan, sifat-sifat baru dan hasrat baru serta perkembangan cita-cita menyebabkan perasaan kurang seimbang, gelisah, resah, bingung, agresif, dan sebagainya.

3) Aspek Sosial: Norma-norma kehidupan, seperti: norma sosial, adat-istiadat, tuntutan agama, peraturan kehidupan bernegara, berbangsa belumlah menjadi bagian yang utuh dan teguh (internalisasi) dalam diri remaja. Apalagi bila ada perbedaan nilai antara apa yang disadari dan diamalkan orang tua dengan keinginan remaja, menyebabkan timbulnya ketegangan dalam hubungan yang semestinya tidak perlu terjadi.

       Davidoff mengatakan bahwa menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut. Di dalam sebuah penelitian dikemukakan bahwa anak-anak yang memiliki kadar agresi di atas normal akan lebih cenderung berlaku agresif, mereka akan bertindak keras terhadap sesama anak lain setelah menyaksikan adegan kekerasan dan meningkatkan agresi dalam kehidupan sehari-hari, dan ada kemungkinan efek ini sifatnya menetap.

       Dikatakan bahwa temperamen orang tua yang agresif serta meledak-ledak, kriminil, serta disertai tindakan yang sewenang-wenang tidak hanya mentransformasikan defek temperamen saja, melainkan juga menimbulkan iklim yang sangat abnormal dalam keluarga tersebut sehingga memupuk reaksi emosional impulsif serta berpengaruh funest (buruk) pada jiwa anak dan remaja yang masih labil sehingga anak/ remaja mudah terjangkiti pola eksplosif dan bertindak kriminil. Artinya dalam kehidupan bila si anak terbiasa dengan lingkungan rumah dan menyaksikan peristiwa perkelahian antar orang tua di lingkungan rumah, ayah dan ibu, prilaku agresi semakin kuat dalam diri si anak.

D. Faktor - Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

       Menurut Graham, ada beberapa faktor penyebab kelainan perilaku anak dan remaja antara lain:

a. Faktor Lingkungan seperti: Malnutrisi; Kemiskinan di kota-kota besar; 

Gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu-lintas, bencana alam, dan Iainlain); Migrasi; 

b. Faktor sekolah (kesalahan mendidik, faktor kurikulum, dan Iainlain); 

Keluarga yang tercerai-berai (perceraian, perpisahan yang terlalu lama, dan Iain-Iain); Gangguan dalam pengasuhan oleh keluarga: 

· Kematian orang tua; 

· Orang tua sakit berat atau cacat; 

· Hubungan antar anggota keluarga tidak harmonis; 

· Orang tua sakit jiwa; 

· Kesulitan dalam pengasuhan karena pengangguran, kesulitan keuangan, tempat tinggal tidak memenuhi syarat, dan Iain-Iain.

c. Faktor Pribadi, seperti: Faktor bakat yang mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif, dan Iain-Iain); Cacat tubuh; Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri. Carson dan Butcher menemukan beberapa hal yang dapat menyebabkan munculnya perilaku delinkuen pada remaja: 

1) Keluarga yang berantakan berupa ketiadaan salah satu atau kedua orang tuanya disebabkan beberapa kondisi seperti kematian atau perceraian yang pada umumnya remaja delinkuen berasal dari keluarga yang berantakan yaitu orang tuanya mengalami perceraian; 

2) Penolakan orang tua, menurut Hurlock, akan membuat anak merasa tidak disayangi, sehingga menimbulkan kemarahan dan dendam dalam diri si anak terhadap orang tuanya. Pendapat ini didukung oleh aliran Psikoanalisis yaitu orang-orang yang tak mempunyai hubungan yang harmonis dengan orang tuanya di masa kecil kemungkinan besar tidak akan mengembangkan super ego yang cukup kuat, sehingga mereka bisa menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat. Super ego ini diperoleh anak melalui proses pendidikan, khususnya hubungan antara orang tua dan anak, kemudian norma-norma itu diserap menjadi nilai yang akan menjadi bagian jiwa sebagai pengendali tingkah laku seseorang.

       Menurut aliran Empirisme dengan tokohnya yang terkenal John Lock yaitu dengan teori Tabula Rasa yang mengatakan bahwa pengalamanlah (pendidikan, pergaulan dan Iain-Iain) yang akan menuliskan corak jiwa manusia selanjutnya. Tidak mengherankan jika ada yang berpendapat bahwa segala sifat negatif yang ada pada diri anak sebenamya ada pada orang tua individu itu sendiri bukan semata-mata faktor bawaan akan tetapi karena proses pendidikan, proses sosialisasi atau kalau mengutip Sigmund Freud yaitu proses identifikasi.

       Kartono berpendapat bahwa lingkungan yang sangat penting bagi anak memasuki masa remaja adalah lingkungan teman sebaya (peer group) dan lingkungan keluarga. Namun demikian, keluargalah yang sebenarnya merupakan dasar bagi pembentukan kepribadian remaja. Untuk itu dalam lingkungan keluarga perlu diciptakan suasana yang harmonis, agar kepribadian remaja terbentuk dengan baik.



Faktor - Faktor Kenakalan Remaja Secara Umum

Ulah atau tindakan para remaja yang masih dalam tarap pencarian jati diri sering sekali mengusik ketenangan orang lain. Kenakalan-kenakalan ringan yang mengganggu ketentraman lingkungan sekitar seperti sering keluar malam dan menghabiskan waktunya hanya untuk hura-hura seperti minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, berkelahi, berjudi, dan lain-lainnya itu akan merugikan dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain yang ada disekitarnya. Cukup banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja. Berbagai faktor yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja secara umum dapat dikelompokan ke dalam dua faktor, yaitu sebagai berikut:

1. Faktor Intern

a) Faktor Kepribadian

Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis pada sistem psikosomatis dalam individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya (biasanya disebut karakter psikisnya). Masa remaja dikatakan sebagai suatu masa yang berbahaya. Pada periode ini, seseorang meninggalkan masa anak-anak untuk menuju masa dewasa. Masa ini di rasakan sebagai suatu Krisis identitas karena belum adanya pegangan, sementara kepribadian mental untuk menghindari timbulnya kenakalan remaja atau perilaku menyimpang.

b) Faktor Kondisi Fisik

Faktor ini dapat mencakup segi cacat atau tidaknya secara fisik dan segi jenis kelamin. Ada suatu teori yang menjelaskan adanya kaitan antara cacat tubuh dengan tindakan menyimpang (meskipun teori ini belum teruji secara baik dalam kenyataan hidup). Menurut teori ini, seseorang yang sedang mengalami cacat fisik cenderung mempunyai rasa kecewa terhadap kondisi hidupnya. Kekecewaan tersebut apabila tidak disertai dengan pemberian bimbingan akan menyebabkan si penderita cenderung berbuat melanggar tatanan hidup bersama sebagai perwujudan kekecewaan akan kondisi tubuhnya.


c) Faktor Status dan Peranannya di Masyarakat

Seseorang anak yang pernah berbuat menyimpang terhadap hukum yang berlaku, setelah selesai menjalankan proses sanksi hukum (keluar dari penjara), sering kali pada saat kembali ke masyarakat status atau sebutan “eks narapidana” yang diberikan oleh masyarakat sulit terhapuskan sehingga anak tersebut kembali melakukan tindakan penyimpangan hukum karena meresa tertolak dan terasingkan.

2. Faktor Ekstern

a. Kondisi Lingkungan Keluarga

Khususnya di kota-kota besar di Indonesia, generasi muda yang orang tuanya disibukan dengan kegiatan bisnis sering mengalami kekosongan batin karena bimbingan dan kasih sayang langsung dari orang tuanya sangat kurang. Kondisi orang tua yang lebih mementingkan karier daripada perhatian kepada anaknya akan menyebabkan munculnya perilaku menyimpang terhadap anaknya. Kasus kenakalan remaja yang muncul pada keluarga kaya bukan karena kurangnya kebutuhan materi melainkan karena kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anaknya.

b. Kontak Sosial dari Lembaga Masyarakat Kurang Baik atau Kurang Efektif

Apabila system pengawasan lembaga-lembaga sosial masyarakat terhadap pola perilaku anak muda sekarang kurang berjalan dengan baik, akan memunculkan tindakan penyimpangan terhadap nilai dan norma yang berlaku. Misalnya, mudah menoleransi tindakan anak muda yang menyimpang dari hukum atau norma yang berlaku, seperti mabuk-mabukan yang dianggap hal yang wajar, tindakan perkelahian antara anak muda dianggap hal yang biasa saja. Sikap kurang tegas dalam menangani tindakan penyimpangan perilaku ini akan semankin meningkatkan kuantitas dan kualitas tindak penyimpangan di kalangan anak muda.

c. Kondisi Geografis atau Kondisi Fisik Alam

Kondisi alam yang gersang, kering, dan tandus, dapat juga menyebabkan terjadinya tindakan yang menyimpang dari aturan norma yang berlaku, lebih-lebih apabila individunya bermental negative. Misalnya, melakukan tindakan pencurian dan mengganggu ketertiban umum, atau konflik yang bermotif memperebutkan kepentingan ekonomi.

d. Faktor Kesenjangan Ekonomi dan Disintegrasi Politik

Kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin akan mudah memunculkan kecemburuan sosial dan bentuk kecemburuan sosial ini bisa mewujudkan tindakan perusakan, pencurian, dan perampokan. Disintegrasi politik (antara lain terjadinya konflik antar partai politik atau terjadinya peperangan antar kelompok dan perang saudara) dapat mempengaruhi jiwa remaja yang kemudian bisa menimbulkan tindakan-tindakan menyimpang.

e. Faktor Perubahan Sosial Budaya yang Begitu Cepat

Perkembangan teknologi di berbagai bidang khususnya dalam teknologi komunikasi dan hiburan yang mempercepat arus budaya asing yang masuk akan banyak mempengaruhi pola tingkah laku anak menjadi kurang baik, lebih-lebih anak tersebut belum siap mental dan akhlaknya, atau wawasan agamanya masih rendah sehingga mudah berbuat hal-hal yang menyimpang dari tatanan nilai-nilai dan norma yang berlaku.

E. Jenis - Jenis Kenakalan Remaja

a). Tawuran antar pelajar

Tawuran antar pelajar adalah perbuatan yang  dapat merusak  merusak fasilitas umum dan fasilitas yg terdapat di sekolah.Tawuran juga dapat merusak masa depan, karena jika tertangkap polisi nama mereka yang tertangkap akan tercemar.

b). Mencoret coret dinding sekolah

Mencoret coret secara ilegal adalah perbuatan yang tidak baik, karena dapat membuat kotor sekitar lingkungan. Tetapi jika kita melakukannya dengan baik, coretan coretan itu dapat manjadi karya karya seni yang baik.

c). Mencuri

Mencuri juga dapat merusak nama baik kita, karena jika kita ketahuan mencuri, kita akan merasa sangat malu, dan kita juga akan di jauhi oleh orang orang yang dekat dengan kita, karena orang itu sudah tidak percaya lagi dengan kita.

d). Bolos sekolah

Bolos merupakan perbuatan yang akan merugikan diri sendiri karna menyia-nyiakan ilmu yang akan di berikan kepad kita oleh guru.

e). Merusak fasilitas sekolah

Merusak fasilitas sekolah akan merugikan diri saendiri dan orang lain, karena kita tidak bisa memakai atau manggunakan fasilitas fasilitas tersebut.

f). Perbuatan zina atau sex bebas

Adalah hubungan seksual yang tidak syah. Islam telah melarang segala bentuk hubungan seksual diluar pernikahan, dan menetapkan hukuman yang berat terhadap pelanggaran hukum yang telah ditentukan.

g). Perbuatan kekerasan

Anak-anak remaja melakukan perbuatan kekerasan seperti penganiayaan dan pembunuhan pada hakikatnya perbuatan tersebut melanggar nilai-nilai yang terpuji (mahmudah). Kejahatan dan pembunuhan, penganiayaan didalam ajaran Islam dipandang sebagai perbuatan tercela.

h). Menggunakan obat – obat terlarang dan minuman keras

Anak - anak remaja terkadang mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang menggunakan obat – obat terlarang serta mabuk – mabukan dengan mengkonsumsi minum – minuman keras.

E. Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja

       Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya.Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat.Secara sosiologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya.Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri, dan sebagainya.

      Mengatasi kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu. Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua, teman-teman, maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja tersebut. Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis yang menggantung harus diselesaikan, dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya.

       Memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak menambah jumlah kasus yang ada.

Berikut Solusi dalam rangka penanggulangan kenakalan remaja :


1. Tindakan Preventif

Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum dapat dilakukan dengan  cara mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja. Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan mana saja yang biasanya menjadi sebab timbulnya pelampiasan dalam bentuk kenakalan.

Usaha pembinaan remaja dapat dilakukan melalui:

· Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

· Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etiket.

· Menyediakan sarana-sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.

· Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.

· Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingkah laku baik dan merangsang hubungan sosial yang baik.

· Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan mengemukakan pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif.

· Memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga maupun masyarakat di mana banyak terjadi kenakalan remaja.

Sebagaimana disebut di atas, bahwa keluarga juga mempunyai andil penting dalam membentuk pribadi seorang remaja. Jadi untuk memulai perbaikan, maka harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling sederhana, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan, membaca doa setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada anak dan masih banyak hal lagi yang bisa dilakukan oleh keluarga. Memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik, tetapi semua itu bisa dilakukan dengan pembinaan yang perlahan dan sabar.

Dengan usaha pembinaan yang terarah, para remaja akan mengembangkan diri dengan baik sehingga keseimbangan diri yang serasi antara aspek rasio dan aspek emosi akan dicapai. Pikiran yang sehat akan mengarahkan para remaja kepada perbuatan yang pantas, sopan dan bertanggung jawab yang diperlukan dalam menyelesaikan kesulitan atau persoalan masing-masing.

Usaha pencegahan kenakalan remaja secara khusus dilakukan oleh para pendidik terhadap kelainan tingkah laku para remaja. Pendidikan mental di sekolah dilakukan oleh guru, guru pembimbing dan psikolog sekolah bersama dengan para pendidik lainnya. Usaha pendidik harus diarahkan terhadap remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkah laku remaja di rumah dan di sekolah.

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja. Ada banyak hal yang bisa dilakukan pihak sekolah untuk memulai perbaikan remaja, di antaranya melakukan program “monitoring” pembinaan remaja melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah dan penyelenggaraan berbagai kegiatan positif bagi remaja.

Bimbingan yang dilakukan terhadap remaja dilakukan dengan dua pendekatan:

· Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada remaja itu sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan remaja dan membantu mengatasinya.

· Pendekatan melalui kelompok, di mana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut.

2. Tindakan Represif

Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran. Dengan adanya sanksi tegas pelaku kenakalan remaja tersebut, diharapkan agar nantinya si pelaku tersebut “jera” dan tidak berbuat hal yang menyimpang lagi. Oleh karena itu, tindak lanjut harus ditegakkan melalui pidana atau hukuman secara langsung bagi yang melakukan kriminalitas tanpa pandang bulu.

Sebagai contoh, remaja harus mentaati peraturan dan tata cara yang berlaku dalam keluarga. Disamping itu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orangtua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Pelaksanaan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur.

Di lingkungan sekolah, kepala sekolahlah yang berwenang dalam pelaksanan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam beberapa hal, guru juga berhak bertindak. Akan tetapi hukuman yang berat seperti skorsing maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinan-kemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan tim guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara waktu (skors) atau seterusnya tergantung dari jenis pelanggaran tata tertib sekolah.

3. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi

Tindakan ini dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkah laku pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus yang sering ditangani oleh suatu lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.

Solusi internal bagi seorang remaja dalam mengendalikan kenakalan remaja antara lain:

· Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan.

· Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.

· Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.

· Remaja menyalurkan energinya dalam berbagai kegiatan positif, seperti berolahraga, melukis, mengikuti event perlombaan, dan penyaluran hobi.

· Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.

· Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Jika berbagai solusi dan pembinaan di atas dilakukan, diharapkan kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi. Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha pengendalian kenakalan remaja harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian remaja yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat jasmani dan rohani, teguh dalam kepercayaan (iman) sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.











BAB III

PENUTUP


A. Kesimpulan

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa krisis identitas dan kontrol diri yang lemah. Sedangkan faktor eksternal berupa kurangnya perhatian dari orang tua; minimnya pemahaman tentang keagamaan; pengaruh dari lingkungan sekitar dan pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebaya; dan tempat pendidikan. Untuk menanggulanginya Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya merupakan hal-hal yang bisa dilakukan juga mampu mengatasi kenakalan remaja.

Adapun solusi dalam menghadapi kenakalan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

· Tindakan preventif, yaitu tindakan untuk mengantisipasi terjadinya kenakalan remaja

· Tindakan represif, yaitu memberikan sanksi tegas kepada pelaku kenakalan remaja

· Tindakan kuratif dan rehabilitasi, yaitu mengubah tingkah laku pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi.

B. Saran

a. Orangtua

Disarankan kepada orangtua untuk dapat menjaga hubungan yang hangatdalam keluarga dengan cara saling menghargai, pengertian, dan penuh kasihsayang serta tidak bertengkar di depan anak. Serta memberi pengarahan tentang cara bergaul. Orang tua harus bisa menjadi teman, agar anak dapat terbuka dan anak dapat menjadikan orang tua sebagai seorang sahabat terpercaya.


b. Pihak Sekolah

Pihak sekolah disarankan dapat membantu siswa untuk mengenali potensi-potensi yang dimiliki siswa. Sehingga dapat meningkatkan konsep diri siswa, serta dapatmeminimalisir penggunaan kata-kata atau sikap yang dapat menurunkan konsep diri siswa.

c. Pihak Pemerintah

Perlu adanya tindakan-tindakan dari pemerintah untuk mengawasi tindakan remaja di Indonesia agar tidak terjerumus pada kenakalan remaja.

d. Masyarakat Umum

Bagi masyarakat umum hendaknya ikut berpartisipasi guna pencegahannya. Apabila melihat hal-hal yang tidak wajar yang dilakukan oleh para remaja segera laporkan ke penegak hukum setempat agar diberi penyuluhan dan pengarahan.

e. Para Remaja

Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya sebagai remaja yang baik dan benar sesuai tuntutan dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Agar kita dapat menjadi remaja yang baik dan agar kita bisa menciptakan Negara dan bangsa yang sukses.


Daftar Pustaka


· berbagaireviews.com

· pustakapengetahuan.com

· Kartono Kartini, Psikologi Sosial : Kenakalan Remaja, Jakarta : Rajawali, 2003

· Kuswanto dan Bambang Siswanto. Sosiologi. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2003

· Soerjono dan Soekanto. Sosiologi Penyimpangan. Jakarta: Rajawali, 1988.

· Willis, S. Problema Remaja dan Pemecahannya. Bandung : Angkasa, 1994

Pengertian Ijtihad, Dasar Hukum Ijtihad, Fungsi Ijtihad

Pengertian Ijtihad, Dasar Hukum Ijtihad, Fungsi Ijtihad

ijtihad


Ijtihad merupakan upaya untuk menggali suatu hukum yang sudah ada pada zaman Rasulullah SAW. Hingga dalam perkembangannya, ijtihad dilakukan oleh para sahabat, tabi’in serta masa- masa selanjutnya hingga sekarang ini. Meskipun pada periode tertentu apa  yang kita kenal dengan masa taqlid, ijtihad tidak diperbolehkan, tetapi pada masa periode tertentu pula (kebangkitan atau pembaharuan), ijtihad mulai dibuka kembali. Karena tidak bisa dipungkiri, ijtihad adalah suatu keharusan, untuk menanggapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks problematikanya.

Sekarang,   banyak   ditemui   perbedaan - perbedaan   madzab   dalam   hukum   Islam   yang   itu disebabkan dari ijtihad. Misalnya bisa dipetakan Islam kontemporer seperti Islam liberal, fundamental, ekstrimis, moderat, dan lain sebagainya. Semuanya itu tidak lepas dari hasil ijtihad dan  sudah  tentu  masing-masing mujtahid  berupaya  untuk  menemukan  hukum  yang terbaik. Justru dengan ijtihad, Islam menjadi luwes, dinamis, fleksibel, cocok dalam segala lapis waktu, tempat dan kondisi. Dengan ijtihad pula, syariat Islam menjadi “tidak bisu” dalam menghadapi problematika kehidupan yang semakin kompleks.

Sesungguhnya ijtihad adalah suatu cara untuk mengetahui hukum sesuatu melalui dalil - dalil agama yaitu Al-Qur'an dan Al-hadits dengan jalan istimbat. Adapun mujtahid itu ialah ahli fiqih yang menghabiskan atau mengerahkan seluruh kesanggupannya untuk memperoleh persangkaan kuat terhadap sesuatu hukum agama. Oleh karena itu kita harus berterima kasih kepada para mujtahid yng telah mengorbankan waktu,tenaga, dan pikiran untuk menggali hukum tentang masalah - masalah yang dihadapi oleh umat Islam baik yang sudah lama terjadi di zaman Rasullullah maupun yang baru terjadi.


Pengertian Ijtihad

Secara etimologi, ijtihad diambil dari kata al-jahd atau al-juhd, yang berarti al-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan ath-thaqat (kesanggupan dan kemampuan). Dengan kata lain, Ijtihad secara etimologi adalah pencurahan segenap kesanggupan untuk mendapatkan sesuatu urusan atau sesuatu perbuatan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:



…مهدهج لَإ نودجي لَ نيذلاو  …


Artinya:


“…Dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan.” Q.S. At-Taubah:79)


Kata al-jahd bbeserta seluruh derivasinya menunjukkan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa dan sulit untuk dilaksanakan atau disenangi.

Dalam pengertian inilah, Nabi mengungkapkan kata-kata:


ءاعدلا ىف و ادهتجو يلع اولص


Artinya:


“Bacalah salawat padaku dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa.”


ءاعدلا ىف اودهتجاف دوجسلاامأو


Artinya:

“Pada waktu sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa.”


Demikian pula pada jihad (perang) yang derivasinya sama dengan ijtihad mengandung arti sungguh- sungguh dan tidak disenangi.

Ijtihad adalah masdar dari fiil   madzi    ijtahada. Penambahan hamzah dan ta’    pada    kata ja-ha- da menjadi ijtahada pada wajan if-ta-a’-la berarti, “usaha itu lebih sungguh-sungguh”. Seperti halnya ka- sa-ba menjadi iktasaba,   yang   berarti   “usaha   lebih   kuat   dan   sungguh-sungguh”.   Oleh   sebab itu, ijtihad berarti usaha keras atau pengerahan daya upaya (istifragh al-wus’ atau badzl al-wus’). Dengan demikian, ijtihad berarti usaha maksimal untuk mendapatkan atau memperoleh sesuatu. Sebaliknya, suatu usaha   yang   dilakukan   tidak   maksimal   dan   tidak   menggunakan   daya   upaya   yang   keras   tidak disebut ijtihad, melainkan daya nalar biasa, ar-ra’y atau at-tafkir.

Adapun definisi ijtihad secara terminologi cukup beragam dikemukakan oleh ulama ushul fiqih, namun intinya adalah sama. Sebagai berikut:

  1. Ibnu   Abd   al-Syakur,   dari   kalangan   Hanafiyah   mendefinisikannya   sebagai:   “Pengerahan kemampuan untuk menemukan kesimpulan hukum-hukum syara’ sampai ke tingkat zhanni (dugaan keras) sehingga mujtahid itu merasakan tidak bisa lagi berupaya lebih dari itu.”
  2. Al-Baidawi (w. 685 H), ahli Ushul Fiqh dari kalangan Syafi’iyah mendefinisikannya sebagai: “Pengerahan seluruh kemampuan dalam upaya menemukan hukum-hukum syara’.”
  3. Abu Zahra, ahli Ushul Fiqh yang hidup pada awal abab kedua puluh ini mendefinisikan ijtihad sebagai: “Pengerahan seorang ahli fikih akan kemampuannya dalam upaya menemukan hukum yang berhubungan dengan amal perbuatan dari satu per satu dalilnya.”

Pada definisi ketiga ini, ditegaskan bahwa pihak yang mengerahkan kemampuannya itu adalah ahli fikih,  yaitu  mujtahid,  dan tempat  menemukan  hukum-hukum itu  adalah dalil-dalilnya.  Pada definisi pertama dan kedua hal seperti ini tidak ditegaskan karena dianggap sudah dimaklumi bahwa orang yang akan melakuka ijtihad itu mestilah ahli fikih atau mujtahid. Demikian pula pada definisi kedua dan ketiga, tidak ditegaskan bahwa kesimpulan-kesimpulan fikih yang akan ditemukan oleh kegiatan ijtihad itu hanya sampai ke tingkay zhanni (dugaan kuat), sebagaimana ditegaskan pada definisi kedua, karena sudah dimaklumi bahwa setiap hasil ijtihad bobotnya hanya sampai ke tingkat zhanni, tidak sampai ke tingkat yang lebih meyakinkan.

Abdul Wahhab Khallaf menerangkan ijtihad dalam arti luas yang meliputi beberapa hal berikut:

  • Pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan hukum syarak yang dikehendaki oleh nas yang zanni dalalahnya.
  • Pencurahan  segenap  kemampuan  untuk  mendapatkan  hukum  syarak  yang  amali  dengan
  • menetapkan kaidah syar’iyah kulliyah.
  • Pencurahan  segenap  kesanggupan  untuk  mendapatkan  hukum  syarak  yang  ‘amali  mengenai masalah yang tidak ditunjuki hukumnya oleh nas dengan sarana-sarana yang diperbolehkan oleh syarak guna ditetapkan hukumnya.

Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ijtihad adalah suatu pekerjaan yang mempergunakan segala kesanggupan daya rohaniah untuk mendapatkan hukum syara’ atau menyusun suatu pendapat dari suatu masalah hukum yang bersumber dari Al Qur’an dan hadis.


Dasar Hukum Ijtihad.

Ijtihad bisa dipandang sebagai salah satu metode untuk menggali sumber hukum Islam. Yang menjadi landasan dibolehkannya ijtihad banyak sekali, baik melalui pernyataan yang jelas maupun berdasarkan isyarat, diantaranya:

1. Firman Allah SWT Q.S. An-Nisa ayat 105


Q.S. An-Nisa ayat 105


Artinya:

“sesungguhnya kami turunkan kitab kepadamu secara hak, agar dapat menghukumi di antara manusia dengan apa yang Allah mengetahui kepadamu.”


2. Firman Allah SWT Q.S. An-Nisa ayat 59:


Q.S. An-Nisa ayat 59


Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika  kamu  berlainan pendapat  tentang sesuatu,  maka  kembalikanlah  ia  kepada  Allah  (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Perintah mengembalikan sesuatu yang diperbedakan kepada Al-Qur’an dan sunnah, menurut Ali Hasaballah adalah peringatan agar orang tidak mengikuti hawa nafsunya, dan mewajibkan untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya dengan jalan ijtihad dalam membahas kandungan ayat atau hadis dengan menerapkan kaidah-kaidah umum yang disimpulkan dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, seperti menyamakan hukum sesuatu yang tidak ditegaskan hukumnya dengan sesuatu yang disebutkan dalam Al- Qur’an karena persamaan ‘illatnya seperti dalam praktik qiyas (analogi), atau dengan meneliti kebijaksanaan-kebijaksanaan syariat. Melakukan ijtihad seperti inilah yang dimaksud mengembalikan sesuatu kepada Allah dan Rasul-Nya seperti yang dimaksud oleh ayat itu.


3. Adanya keterangan dari sunah, yang membolehkan berijtihad, diantaranya: Sabda Nabi SAW

Yang artinya:

“Apabila   hakim   memutuskan   hukum   dengan   berijtihad   dan   ia   menemukan   kebenaran   dalam berijtihadnya, maka ia mendapat dua pahala. Jika ia tidak memperoleh kebenaran dalam ijtihadnya, maka ia memperoleh satu pahala” (H.R.Bukhari dan Muslim) Falsafat Tasyri’.

Hadits  yang  menerangkan  dialog  Rasulullah  SAW  dengan  Mu’adz  bin  Jabal,  ketika  Muadz  diutus menjadi hakim di Yaman  berikut ini:

“Diriwayatkan dari penduduk homs, sahabat Muadz ibn Jabal, bahwa Rasulullah saw. Ketika bermaksud untuk mengutus Muadz ke Yaman, beliau bertanya: apabila dihadapkan kepadamu satu kasus hukum, bagaimana kamu memutuskannya?, Muadz menjawab:, Saya akan memutuskan berdasarkan Al-Qur’an.

Nabi bertanya lagi:, Jika kasus itu tidak kamu temukan dalam Al-Qur’an?, Muadz menjawab:,Saya akan memutuskannya  berdasarkan  Sunnah  Rasulullah.  Lebih  lanjut  Nabi  bertanya:,  Jika  kasusnya  tidak terdapat dalam Sunnah Rasul dan Al-Qur’an?,Muadz menjawab:, Saya akan berijtihad dengan seksama. Kemudian Rasulullah menepuk-nepuk dada Muadz dengan tangan beliau, seraya berkata:, Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah terhadap jalan yang diridloi- Nya.”(HR.Abu Dawud).

Dan hal itu telah diikuti oleh para sahabat setelah Nabi wafat. Mereka selalu berijtihad jika menemukan suatu masalah baru yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.


Fungsi Ijtihad

Adapun ijtihad memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai berikut:

  1. Ijtihad merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan hadis.
  2. Ijtihad merupakan sarana untuk menyelesaikan persoalan-persoalan baru yang muncul dengan tetap berpegang pada Al-Qur’an dan sunah.
  3. Ijtihad  berfungsi  pula  sebagai  suatu  cara  yang  di  isyariatkan  untuk  menyesuaiakan  perubahan- perubahan sosial dengan ajaran-ajaran Islam.
  4. Ijtihad berfungsi sebagai wadah pencurahan pemikiran kaum muslim dalam mencari jawaban dari masalah-masalah seperti berikut ini:

  • Masalah asasi, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan ajaran Islam seperti masalah-masalah bidang akidah dan muamalat.
  • Masalah esensial misalnya mengenai program pembangunan Negara dan bangsa.
  • Masalah incidental misalnya tentang isu-isu yang berkembang dalam masyarakat.


Macam - Macam Ijtihad

Dikalangan    ulama,    terjadi     perbedaan    pendapat    mengenai    masalah ijtihad.    Iman    Syafi’I menyamakan ijtihad dengan qiyas,    yakni    dua    macam,    tetapi    maksudnya    satu.    Dia    tidak mengakui ra’yu yang didasarkan pada istihsan atau maslahah mursalah. Sementara itu, para ulama lainnya memiliki pandangan lebih luas tentang ijtihad. Menurut mereka, ijtihad itu mencakup ra’yu, qiyas, dan akal.

Pemahaman mereka tentang ra’yu sebagaimana yang diungkapkan oleh para sahabat, yaitu mengamalkan apa-apa yang dipandang maslahat oleh seorang mujtahi, atau setidak-tidaknya mendekati syari’at, tanpa melihat  apakah  hal  itu  ada  dasarnya  atau  tidak.  Berdasarkan  pendapat  tersebut,  Dr.  Dawalibi membagi ijtihad menjadi kitab Al-Muwafakat, yaitu:

  1. Ijtihad Al-Batani, yaitu ijtihad untuk menjelaskan hukum-hukum syara’ dari nash.
  2. Ijtihad Aal-qiyasi, yaitu ijtihad terhadap permasalahan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah dengan menggunakan metode qiyas.
  3. Ijtihad al-istislah, yaitu ijtihad terhadap permasalahan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah dengan menggunakan ra’yu berdasarkan kaidah istishlah.

Pembagian di atas masih belum sempurna, seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Taqiyu al- Hakim dengan mengemukakan beberapa alas an, diantaranya jami’ wal mani. Menurutnya, ijtihad itu dapat dibagi menjadi dua bagian saja, yaitu:

1. Ijtihad al-aqli, yaitu ijtihad yang hujjahnya didasarkan pada akal, tidak menggunakan dalil syara’.

Mujtahid dibebaskan  untuk  berpikir,  dengan  mengikuti  kaidah-kaidah  yang  pasti.  Misalnya, menjaga kemadaratan, hukuman itu jelek bila tidak disertai penjelasan, dan lain-lain.

2. Ijtihad   syari’, yaitu ijtihad yang   didasarkan   pada   syara’,   termasuk   dalam   pembagian   ini adalah ijma’, qiyas, istihsan, Istishlah, ‘urf, istishhab, dan lain-lain. Ijtihad dilihat dari sisi jumlah pelakunya dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Ijtihad  Fardi,  menurut  al-Thayyib  Khuderi  al-Sayyid,  yaitu  ijtihad  yang  dilakukan  oleh perorangan atau hanya beberapa orang ijtihad. Misalnya, ijtihad yang dilakukan oleh para iman mujtahid besar: iman Abu Hanifah, Iman Malik, Iman Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal.
  • Ijtihad  Jama’i, adalah  apa  yang  dikenal  dengan  ijma’  dalam  kitab-kitab  Ushul  Fiqh,  yaitu kesepakatan para mujtahid dari umat Muhammad SAW setelah Rasulullah wafat dalam masalah tertentu. Dalam sejarah Ushul Fiqh, ijtihad jama’I dalam pengertian ini hanya melibatkan ulama- ulama  dalam  satu  disiplin  ilmu,  yaitu  fikih.  Dalam  perkembangannya,  apa  yang  dimaksud dengan ijtihad  jama’i, seperti  dikemukakan al-Thayyib  Khuderi  al-Sayyid,  disamping  bukan berarti melibatkan seluruh ulama mujtahid, juga bukan dalam satu disiplin ilmu.


Syarat - Syarat Ijtihad.

Ulama ushul berbeda pendapat dalam menetapkan syarat-syarat  ijtihad atau syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid (orang yang melakukan ijtihad). Secara umum, pendapat mereka tentang persyaratan seorang mujtahid dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Menguasai  dan  mengetahui  arti  ayat-ayat  hukum yang terdapat  dalam Al-Qur’an,  baik menurut bahasa  maupun  syari’ah.  

Akan  tetapi,  tidak  disyaratkan  harus  menghafal,  melainkan  cukup mengetahui letak-letaknya saja, sehingga memudahkan baginya apabila ia membutuhkan. Aman Ghazali, Ibnu Arabian, dan Ar-Razi membatasi ayat-ayat hukum tersebut sebanyak 500 ayat.

2. Menguasai dan mengetahui hadis-hadis tentang hukum, baik menurut bahasa maupun syari’at. Akan tetapi, tidak disyaratkan harus menghafal, melainkan cukup mengetahui letak-letaknya secara pasti, untuk memudahkannya jika ia membutuhkannya. 

Ibnu Arabian membatasinya sebanyak 3000 hadis. Menurut Ibnu Hanbal, dasar ilmu yang berkaitan dengan hadis Nabi berjumlah sekitar 1.200 hadis. Oleh karena itu, pembatasan tersebut dinilai tidak tepat karena hadis-hadis hukum itu tersebar dalam berbagai kitab yang berbeda-beda.Menurut Asy-Syaukani, seorang mujtahid harus mengetahui kitab- kitab yang menghimpun hadis dan bisa membukanya dengan cepat, misalnya dengan menggunakan kamus hadis. Selain itu, ia pun harus mengetahui persambungan sanad dalam hadis. Sedangkan menurut At-Taftaji, sebaiknya mujtahid mengambil referensi dari kitab-kitab yang sudah manshyur kesahihannya, seperti Bukhari, Muslim, Baghawi, dan lain-lain.

3. Mengetahui  nasakh  dan  mansukh  dari  Al-Qur’an  dan  As-Sunah,  supaya  tidak  salah  dalam menetapkan hukum, namun tidak disyaratkan harus menghafalnya. 

Di antara kitab-kitab yang bisa dijadikan rujukan dalam nasakh dan mansukh adalah kitab karangan Ibnu Khujaimah, Abi Ja’far An- Nuhas, Ibnu Jauzi, Ibnu Hajm, dan lain-lain.4.   Mengetahui permasalahan yang sudah ditetapkan melalui ijma’ ulama, sehingga ijtihad-nya tidak bertentangan dengan ijma’. Kitab yang bisa dijadikan rujukan di antaranya Kitab Maratibu al-Ijma’.

5. Mengetahui qiyas dan berbagai persyaratan serta meng-istinbatnya, karenaqiyas merupakan kaidah dalam berijtihad.

6. Mengetahui bahasa Arab dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan bahasa, serta berbagai problematikanya. 

Hal ini antara lain karena Al-Qur’an dan As-Sunnah ditulis dengan bahasa Arab. Namun, tidak disyaratkan untuk betul-betul menguasainya atau menjadi ahlinya, melainkan sekurang- kurangnya mengetahui maksud yang dikandung dari Al-Qur’an atau Al-Hadis.

7. Mengetahui ilmu Ushul Fiqih yang merupakan fondasi dari ijtihad. Bahkan, menurut Fakhru Ar-Razi, ilmu yang paling penting dalam ber-ijtihad adalah ilmu Ushul Fiqih

8. Mengetahui  maqashidu  Asy-Syari’ah  (tujuan  syari’at)  secara  umum,  karena  bagaimanapun  juga syari’at itu berkaitan dengan maqashidu Asy-Syari’ah atau rahasia disyari’atkannya suatu hukum.

Sebaiknya, mengambil rujukan pada istihsan, maslahah mursalah, urf, dan sebagainya yang menggunakan  maqashidu  Asy-Syari’ah  sebagai  standarnya.  Maksud  dari  maqashidu  al-Syari’ah, antara lain menjaga kemaslahatan manusia dari menjauhkan dari kemadaratan. Namun, standarnya adalah syara’, bukan kehendak manusia, karena manusia tidak jarang menganggap yang hak menjadi tidak hak dan sebaliknya. Syarat-syarat tersebut diperlukan bagi mujtahid mutlak yang bermaksud mengadakan ijtihad dalam segala masalah fikih di masa lampau. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan di masa sekarang, syarat-syarat tersebut tentu belum mencukupi. Untuk melakukan ijtihad, diperlukan pula pemahaman terhadap ilmu pengetahuan secara umum dan segala cabangnya. Akan tetapi, usaha itu bukanlah suatu hal yang mudah dan memerlukan kerja keras dan keseriusan. Ijtihad yang dilakukan secara kolektif sangat membantu untuk melakukan ijtihad yang efektif.


Tingkatan Mujtahid

Dalam menbicarakan masakah tingkatan ijtihad, tidak terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan para ulama ushul tentang telah tertutupnya menurut pintu ijtihad.

Menurut As-Suyuthi “Umat sekarang (pada zamannya) telah terjebak pada pemikiran bahwa mujtahid mutlaq itu sudah tidak ada lagi dan yang ada sekarang hanyalah mujtahid muqayyad. Pernyataan seperti itu adalah salah besar dan tidak sesuai dengan pendapat para  ulama. Mereka tidak mengetahui apa sebenarnya   perbedaan   antara mujtahid   mutlaq,   mujtahid   muqayyad,   dan mujtahid   muntasib yang semuanya berbeda. Dilihat dari luas atau sempitnya cakupan bidang ilmu yang diijtihadkan, tingkatan mujtahid terdiri atas mujtahid fisy syar’i, mujtahid fil masa’il, mujtahid fil mazhab, dan mujtahid muqayyad.

a. Mujtahid Fisy Syar’i

Mujtahid fisy syar’I adalah orang-orang yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syariat yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihad. Merekalah yang membangun mazhab-mazhab tertentu. Ijtihad yang mereka lakukan semata-mata hasil usahanya sendiri tanpa mengambil pendapat orang lain. Oleh karena itu, mereka disebut dengan mujtahid mustaqil (berdiri sendiri). Mereka yang termasuk mujtahid fisy syar’i antara lain Imam Hanafi, Iman Malik, Iman Syafi’i Iman Ahmad bin Hambal, Iman Al Auza’i dan Ja’far As Siddiq.b. Mujtahid Fil Masa’il

Mujtahid fil masa’i adalah mujtahid yang mengarahkan ijtihadnya kepada masalah tertentu dari suatu mazhab, bukan kepada dasar-dasar pokok yang bersifat umum. Misalnya, At Tahawi merupakan mujtahid dalammazhab  Hanafi,  Imam Al  Gazali  merupakan  mujtahid  dalam mazhab  Syafi’i,  dan  Al  Khiraqi merupakan mujtahid dalam mazhab Hambali.

c. Mujtahid Fil Mazhab

Mujtahid  yang ijtihadnya tidak sampai membentuk mazhab tersendiri. Akan tetapi, mereka cukup mengikuti salah seorang imam mazhab yang telah ada dengan beberapa perbedaan, baik dalam beberapa masalah yang utama maupun dalam beberapa masalah cabang. Misalnya, Imam Abu Yusuf dan Muhammad Ubnul Hasan adalah mujtahid fil mazhab Hanafi dan Imam Al Muzanniy adalah mujtahid fil mazhab Syafi’i.

d. Mujtahid Muqayyad

Mujtahid muqayyad adalah mujtahid yang mengikatkan diri dan menganut pendapat-pendapat  ulama salaf dengan mengetahui sumber-sumber hukum dan dalalah-dalalahnya. Mereka mampu menetapkan pendapat yang lebih utama di antara pendapat yang berbeda-beda dalam suatu mazhab dan dapat membedakan antara riwayat yang kuat dan yang lemah. Mereka adalah Al Karakhi yang merupakan mujtahid dalam mazhab Hanafi serta Ar Rafi’i dan An Nawawi yang merupakan mujtahid dalam mazhab Syafi’i.


Objek Ijtihad.

Menurut  Al-Ghazali,  objek ijtihad adalah  setiap  hukum  syara’  yang  tidak  memiliki  dalil yang qathi’. Dari pendapatnya itu, diketahui ada permasalahan yang tidak bisa dijadikan objek ijtihad.

Dengan demikian, syari’at Islam dalam kaitannya dengan ijtihad terbagi dalam dua bagian:

1. Syari’at  yang  tidak  boleh  dijadikan  lapangan ijtihad,  yaitu  hukum-hukum  yang  telah  dimaklumi sebagai  landasan  pokok   Islam,   yang  berdasarkan   pada   dalil-dalil   yang qathi’, seperti   kewajiban melaksanakan shalat, zakat, puasa, ibadah haji, atau haramnya melakukan zina, mencuri, dan lain-lain. Semua itu telah ditetapkan hukumnya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunah.

Kewajiban shalat dan zakat berdasarkan firman Allah SWT.

Q.S. An-Nur ayat 56


Artinya:

“Dan dirikanlah shalat tunaikanlah zakat….” (Q.S. An-Nur ayat 56)

Ayat tersebut tidak boleh dijadikan lapangan ijtihad untuk mengetahui maksud shalat.


2. Syari’at yang bisa dijadikan lapangan ijtihad, yaitu hukum yang didasarkan pada dalil-dalil yang bersifat zhanni, baik maksudnya, petunjuknya, ataupun eksistensinya (tsubut), serta hukum-hukum yang belum ada nash-nya dan ijma’ para ulama.

Apabila ada nash yang keberadaanya masih zhanni, hadis ahad misalnya, maka yang menjadi lapangan ijtihad di antaranya adalah meneliti bagaimana sanadnya, derajat para perawinya, dan lain-lain. Dan nash yang petunjuknya masih zhanni, maka yang menjadi lapangan ijtihad, antara lain bagaimana maksud dari nash tersebut, misalnya dengan memakai kaidah ‘am, khas, mutlaq muqayyad, dan lain-lain. Sedangkan terhadap permasalahan yang tidak ada nashnya, maka yang menjadi lapangan ijtihad adalah dengan cara menggunakan kaidah-kaidah yang bersumber dari akal, seperti qiyas, istihsan, maslahah mursalah, dan lain-lain. Namun, permasalahan ini banyak diperdebatkan di kalangan para ulama.


Hukum Melakukan Ijtihad.

Menurut para ulama, bagi seseorang yang sudah memenuhi persyaratan ijtihad di atas, ada lima hukum yang bisa dikenakan pada orang tersebut berkenaan dengan ijtihad, yaitu:

  1. Orang tersebut dihukumi fardu ain untuk berijtihad apabila ada permasalahan yang menimpa dirinya, dan harus mengamalkan hasil dari ijtihad-nua dan tidak boleh taqliq kepada orang lain. Karena hukum ijtihad itu sama dengan hukum Allah terhadap permasalahan yang ia yakini bahwa itu termasuk hukum Allah.
  2. Juga dihukumi fardu ‘ain ditanyakan tentang suatu permasalahan yang belum ada hukumnya. Karena jika tidak segera dijawab, dikhawatirkan akan terjadi kesalahan dalam melaksanakan hukum tersebut atau habis waktunya dalam mengetahui kejadian tersebut.
  3. Dihukumi fardu kifayah, jika permasalahan yang diajukan kepadanya tidak dikhawatirkan akan habis waktunya, atau ada orang lainselain dirinya yang sama-sama memenuhi syarat sebagai seorang mujtahid.
  4. Dihukumi sunah apabila ber-ijtihad terhadap permasalahan yang baru, baik ditanya ataupun tidak. 
  5. Dihukumi haram apabila ber-ijtihad terhadap permasalahan yang sudah ditetapkan secara qathi’, sehingga hasil ijtihadnya itu bertentangan dengan dalil syara’.


Demikianlah yang dapat saya sampaikan mengenai "Ijtihad ". Jika ada kesalahan ataupun kekeliruan yang terdapat pada penulisan artikel ini, kami selaku pustakapengetahuan.com mengucapkan mohon maaf yang sebesarnya. Silahkan tinggalkan pesan ataupun komentar yang berguna untuk perbaikan yang akan datang.