Jumat, 24 November 2023

Pengaruh Dan Teori Masuknya Hindu-Budha Di Kepulauan Indonesia

| Jumat, 24 November 2023

 Sahabat Pustaka Pengetahuan, pada kali ini kita akan mengenal lebih lanjut tentang penduduk di Kepulauan Indonesia ketika  sudah  mengenal  tulisan  dan  kebudayaannya mulai berkembang. Terutama sewaktu pengaruh-pengaruh budaya Hindu-Buddha masuk ke Kepulauan Indonesia. Masa ini sering kali disebut juga dengan masa klasik, yaitu awal masuknya unsur-unsur budaya India di Kepulauan Indonesia. Pada tahapan ini banyak kemajuan yang dicapai dalam pemikiran dan hasil-hasil budaya baik dalam bentuk benda, maupun budaya tak benda. Masa klasik juga diartikan sebagai pertimbangan banyaknya capaian budaya pada masa Hindu-Buddha itu yang masih tetap dihargai dan ditafsirkan ulang hingga saat ini meskipun pengaruh budaya Hindu-Buddha sudah mulai memudar dan digantikan oleh budaya lain. 


candi prambanan


Pengaruh Budaya India

Tentu sahabat Pustaka Pengetahuan pernah membaca atau bahkan datang untuk melihat kemegahan candi Borobudur dan candi Prambanan. Kedua candi ini merupakan peninggalan masa Hindu-Buddha dan berlokasi di Jawa Tengah. Candi Borobudur terletak di Kota Magelang, Jawa Tengah. Dari bentuk arsitekturnya candi itu merupakan candi Buddha. Candi yang megah itu pernah menjadi satu di antara tujuh keajaiban dunia. Kamu tentu bangga dengan peninggalan budaya itu dan harus dapat merawat peninggalan yang sangat berharga tersebut. Tidak jauh dari candi Borobudur, terdapat candi Prambanan. Candi Hindu  itu  terletak  di  perbatasan  Daerah  Istimewa  Yogyakarta dengan  Klaten,  Jawa  Tengah.  Kedua  candi  yang  megah  itu merupakan bukti perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. 

Adapun dua mahakarya candi Bodobudur dan candi Prambanan merupakan bukti-bukti pencapaian yang luar biasa pada Dinasti Syailendra. Setelah masa dinasti tersebut surut, pusat kebudayaan dan politik kerajaan pindah ke Jawa bagian timur. Di Jawa bagian timur itu kemudian berdirilah kerajaan yang diperintah oleh keturunan Raja Mataram yang bernama Mpu Sindok. Beberapa sumber sejarah yang berasal  dari Cina menyebutkan tentang adanya hubungan perkawinan antara raja Jawa dan Bali pada masa pemerintahannya.  

     Sedangkan di Sumatra terdapat kerajaan yang sangat terkenal, yaitu Sriwijaya. Kerajaan yang handal menjalin hubungan dengan dunia internasional melalui jaringan perdagangan dan kemaritimannya. Dalam masa itulah para pedagang datang dari India, Cina dan Arab untuk meramaikan Sriwijaya. Saat Sumatra berada di bawah Dinasti Syailendra, kerajaan itu dapat menguasai kerajaan-kerajaan lain di sepanjang Selat Malaka. Pada masa itu pula hubungan dengan India dan Cina berkembang pesat. Bahkan hubungan itu sangat berpengaruh dalam perkembangan budaya pada masa itu, bahkan hingga saat ini pengaruh kedua budaya itu masih dapat kita temui. Kehebatan Sriwijaya juga ditunjukkan dengan adanya “dharma” (sumbangan) dari Raja Sriwijaya untuk mendirikan asrama di Nalanda, India. Sriwijaya pun menjadi pusat belajar agama Buddha pada masa itu. Sumber-sumber Tibet dan Nepal menyebutkan, seorang pendeta Buddha yang bernama Atisa, belajar Agama Buddha di Sriwijaya selama 12 tahun, atas saran I-tsing, seorang musafir dari Cina yang lebih dahulu pernah singgah di Sriwijaya. 

   Kalau kita mengunjungi Candi Prambanan atau candi Borobudur, kamu akan melihat kisah dalam dunia wayang. Kamu mungkin pernah mendengar tentang wayang, atau bahkan ada yang suka menonton  pertunjukan  wayang.  Wayang sudah dikenal oleh nenek moyang kita sejak masa Hindu-Buddha. Melalui wayang kisah Mahabharata dipentaskan. Kisah yang hingga saat ini masih populer adalah kisah Bharatayudha. Kisah ini menceritakan tentang perang saudara antara Kurawa dan Pandawa, tentang kebaikan yang mengalahkan kejahatan. Cerita itu merupakan saduran dari India. 

Adapun seorang pujangga Jawa diperintahkan oleh Jayabaya untuk menulis cerita itu dalam versi Jawa. Jayabaya adalah Raja Kediri yang kekuasaannya tidak dapat ditentang oleh kerajaan-kerajaan lain. Raja ini pula yang dikenal karena kehebatan ramalannya. Selain Mahabharata juga dikenal cerita tentang Ramayana. Dari kisah Ramayana itulah disebutkan adanya Jawadwipa, pulau yang kaya dengan tambang emas dan perak. Nama  Jawadwipa  juga  sudah  dikenal  oleh  seorang  ahli geografi  Yunani,  Ptolomeus,  pada  awal  tarikh  Masehi  dengan nama “Labadiu”. Jadi nama Kepulauan Indonesia sudah ditulis dan dikenal oleh penulis Barat jauh pada masa awal Masehi. Ptolomeus menyebutkan bahwa Pulau Labadiu artinya Pulau Padi atau dikenal pula dengan Jawadwipa.  

Interaksi Bangsa India dan Cina di Kepulauan Indonesia.

Satu di antara bangsa yang berinteraksi dengan penduduk kepulauan di Indonesia adalah bangsa India. Interaksi itu terjalin sejalan dengan meluasnya hubungan perdagangan antara India dan Cina. Hubungan itu yang mendorong pedagang-pedagang India dan Cina datang ke kepulauan di Indonesia. Menurut van Leur, barang yang diperdagangkan dalam pasar internasional saat itu adalah barang komoditas yang bernilai tinggi. Barang-barang itu berupa logam mulia, perhiasan, berbagai barang pecah belah, serta bahan baku yang diperlukan untuk kerajinan. Dua komoditas penting yang menjadi primadona pada awal masa sejarah di Kepulauan Indonesia adalah gaharu dan kapur barus. Kedua komoditas itu merupakan bahan baku pewangi yang paling digemari oleh bangsa India dan Cina. Interaksi dengan kedua bangsa itu membawa perubahan pada bentuk tata negara di beberapa daerah di Kepulauan Indonesia. Juga perubahan dalam susunan kemasyarakatan dan sistem kepercayaan. Sejak saat itu pula pengaruh-pengaruh Hindu-Buddha berkembang di Indonesia. 

pengaruh kebudayaan hindu

Tanda-tanda tertua adanya pengaruh kebudayaan Hindu di Indonesia berupa prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Sungai Cisedane, dekat Kota Bogor saat ini. Juga di Jawa Barat dekat Kota Jakarta. Selain itu kita juga dapat melihat peninggalan kebudayaan Hindia itu di sepanjang pantai Kalimantan Timur, yaitu di daerah Muarakaman, Kutai. Menurut para ahli sejarah kuno, kerajaan-kerajaan yang disebut dalam prasasti-prasasti itu adalah kerajaan Indonesia asli, yang hidup makmur bersumber dari perdagangan dengan negara-negara di India Selatan. Interaksi dengan orang-orang dari negara lain itulah yang kemudian mempengaruh cara pandang para raja-raja saat itu untuk mengadopsi konsep-konsep Hindu dengan cara mengundang para ahli dan para pendeta dari golongan  Brahmana (pendeta) di India Selatan yang beragama Wisnu atau Brahma. 

    Beberapa bukti menunjukkan, setelah budaya India masuk, terjadi banyak perubahan dalam tatanan kehidupan. Berdasarkan bukti-bukti  yang  ditemukan,  kerajaan  tertua  di  Muarakaman, Kalimatan Timur, yaitu Kerajaan Kutai mendapat pengaruh yang kuat  dari  budaya  India  yaitu  budaya  yang  dikembangkan  oleh Bangsa Arya di lembah Sungai Indus. Percampuran budaya itu kemudian melahirkan kerajaan yang bersifat Hindu di Nusantara. Baik itu yang mencakup dalam sistem religi, sistem kemasyarakatan, dan bentuk pemerintahan. Suatu hal yang sangat penting dalam pengaruh Hindu adalah adanya konsepsi mengenai susunan negara yang amat hirarkis dengan pembagian-pembagian dan fraksi-fraksi yang digolongkan ke dalam empat atau delapan bagian besar yang bersifat  sederajat  dan  tersusun  secara  simetris.  Semua  bagian- bagian itu diorientasikan ke atas, yaitu sang raja dianggap sebagai keturunan dewa. Raja dianggap keramat dan puncak dari segala hal dalam negara dan pusat alam semesta.

Kebudayaan Hindu di zaman itu mempunyai kekuatan yang besar dan serupa dengan zaman modern saat ini, seperti kebudayaan Barat ataupun kebudayaan Korea yang hamper mempengaruhi seluruh kehidupan semua bangsa-bangsa di dunia. Demikian halnya dengan kebudayaan intelektual agama Hindu pada masa itu yang mempunyai pengaruh kuat di Asia Tenggara. 

   Sebelum kebudayaan India masuk, pemerintahan desa dipimpin oleh seorang kepala suku yang dipilih oleh anggota masyarakat. Seorang kepala suku merupakan orang pilihan yang mengetahui tentang adat istiadat dan upacara pemujaan roh nenek moyangnya dengan baik. Ia juga dianggap sebagai wakil nenek moyangnya. Ia harus dapat melindungi keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya. Karena itulah larangan dan perintahnya dipatuhi oleh warganya. Setelah  masuknya  budaya India, terjadi perubahan. Kedudukan kepala  suku  digantikan  oleh  raja  seperti  halnya  di  India.  Raja memiliki kekuasaan yang sangat besar. Kedudukan raja tidak lagi dipilih oleh rakyatnya, akan tetapi diturunkan secara turun temurun. Raja merupakan penjelmaan dewa yang seringkali disembah oleh rakyatnya. Para Brahmana agama Hindu  tidak  dibebani  untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia. Pada dasarnya seseorang tidak dapat menjadi Hindu, tetapi seseorang itu lahir sebagai Hindu. Mengingat hal tersebut, maka menjadi menarik dengan adanya agama Hindu di Indonesia. Bagaimana dapat terjadi bahwa orang- orang Indonesia yang pasti pada mulanya tidak dilahirkan sebagai Hindu dapat beragama Hindu.  

  Demikian pula dengan system kemasyarakatan. Sistem kemasyarakatan yang dikembangkan oleh  bangsa Arya yang berkembang di Lembah Sungai Indus adalah sistem kasta. Sistem kasta  mengatur  hubungan social bangsa Arya dengan bangsa-bangsa yang ditaklukkannya. Sistem ini membedakan masyarakat berdasarkan fungsinya. Golongan Brahmana (pendeta) menduduki golongan pertama. Ksatria (bangsawan, prajurit) menduduki golongan  kedua.  Waisya  (pedagang  dan  petani)  menduduki golongan  ketiga,  sedangkan  Sudra  (rakyat  biasa)  menduduki golongan terendah atau golongan keempat. Sistem kepercayaan dan kasta menjadi dasar terbentuknya  kepercayaan  terhadap Hinduisme. Penggolongan seperti inilah yang disebut caturwarna. 

pengaruh kebudayaan budha

    Adapun awal hubungan dagang antara penduduk Kepulauan Nusantara dan India bertepatan dengan perkembangan pesat dari  agama  Buddha.  Pendeta-pendeta Buddha menyebarkan ajarannya ke seluruh penjuru dunia melalui jalur perdagangan tanpa  menghitungkan kesulitan-kesulitan yang ditempuhnya. Mereka mendaki Himalaya untuk menyebarkan ajaran Buddha di Tibet.  Dari Tibet mereka melanjutkan ke arah utara  hingga sampai ke Cina. Dengan adanya kedatangan mereka itu biasanya disampaikan terlebih dahulu, sehingga   ketika tiba di tempat tujuan mereka dapat bertemu dengan kalangan istana. Mereka biasanya mengajarkan agama  dengan penuh disampaikan  terlebih  dahulu,  sehingga   ketika   tiba  di tempat tujuan mereka  dapat  bertemu  dengan  kalangan istana. Mereka biasanya mengajarkan agama dengan penuh ketekunan. Mereka juga  membentuk sebuah sanggha dengan biksu-biksu setempat, sehingga muncul suatu ikatan langsung dengan India, tanah suci  agama Buddha. 

Adanya kedatangan para biksu dari  India ke negara-negara lain itu, memunculkan  keinginan para penduduk daerah setempat untuk pergi ke India mempelajari agama Buddha lebih  lanjut. Para biksu  lokal  itu  kemudian kembali dengan membawa kitab- kitab  suci,  relik,  dan  kesan-kesan. Bosch menyebut gejala ini dengan “arus balik”. Dengan adanya pengaruh Buddha di Indonesia dapat dijumpai pada beberapa temuan arkeologis. Satu bukti adalah ditemukannya arca Buddha terbuat dari perunggu di daerah Sempaga, Sulawesi Selatan. Menurut ciri-cirinya, arca Sempaga memperlihatkan langgam seni arca Amarawati dari India Selatan. Arca sejenis juga  ditemukan  di  daerah  Jember,  Jawa Timur dan daerah Bukit Siguntang, Sumatra Selatan.  Di  daerah  Kota  Bangun,  Kutai, Kalimantan  Timur,  juga  ditemukan  arca Buddha. Arca Buddha itu memperlihatkan ciri seni area dari India Utara. 

Teori Masuknya Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia

Ada berbagai pendapat mengenai proses masuknya Hindu-Buddha atau sering disebut Hinduisasi. Sampai saat ini masih ada perbedaan pendapat mengenai cara dan jalur proses masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia. Beberapa pendapat (teori) tersebut dijelaskan pada uraian berikut: 

Teori Ksatria. 

Adapun kaitan ini R.C. Majundar berpendapat, bahwa munculnya kerajaan atau pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh peranan kaum ksatria atau para prajurit India. Para prajurit diduga melarikan diri  dari  India  dan  mendirikan  kerajaan-kerajaan  di  Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Namun, teori Ksatria yang dikemukakan oleh R.C. Majundar ini kurang disertai dengan bukti-bukti yang mendukung. Selama ini belum ada ahli yang dapat menemukan bukti-bukti yang menunjukkan adanya ekspansi dari prajurit-prajurit India ke Kepulauan Indonesia. Kekuatan teori ini terletak pada semangat petualangan para kaum ksatria.  

Teori Waisya. 

Teori ini terkait dengan pendapat N.J. Krom yang mengatakan bahwa kelompok yang berperan dalam dalam  penyebaran  Hindu-Buddha  di  Asia  Tenggara,  termasuk Indonesia adalah kaum pedagang. Pada mulanya para pedagang India berlayar untuk berdagang. Pada saat itu jalur perdagangan ditempuh melalui lautan yang menyebabkan mereka tergantung pada  musim  angin  dan  kondisi  alam.  Bila  musim  angin  tidak memungkinkan  maka  mereka  akan  menetap  lebih  lama  untuk menunggu  musim  baik.  Para  pedagang  India  pun  melakukan perkawinan dengan penduduk pribumi dan melalui perkawinan tersebut mereka mengembangkan kebudayaan India. Menurut G. Coedes, yang memotivasi para pedagang India untuk datang ke Asia Tenggara adalah keinginan untuk memperoleh barang tambang terutama emas dan hasil hutan.  

Teori  Brahmana.  

Adapun teori  tersebut  sesuai  dengan pendapat J.C. van Leur bahwa Hinduisasi di Kepulauan Indonesia disebabkan  oleh  peranan  kaum  Brahmana.  Pendapat  van  Leur didasarkan atas temuan-temuan prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Bahasa dan huruf tersebut hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Selain itu, adanya kepentingan dari para penguasa untuk mengundang para Brahmana India. Mereka diundang ke Asia Tenggara untuk keperluan upacara keagamaan. Seperti pelaksanaan upacara inisiasi yang dilakukan oleh para kepala suku agar mereka menjadi golongan ksatria. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukan oleh Paul Wheatly bahwa para penguasa lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan dengan kebudayaan India guna mengangkat status sosial mereka. 

Teori yang dinamakan teori Arus Balik. 

Adapun teori ini lebih menekankan pada peranan bangsa Indonesia sendiri dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Artinya, orang-orang  di  Kepulauan  Indonesia  terutama  para  tokohnya yang pergi ke India. Di India mereka belajar hal ihwal agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Setelah kembali mereka mengajarkan dan  menyebarkan  ajaran  agama  itu  kepada  masyarakatnya. Pandangan ini dapat dikaitkan dengan pandangan F.D.K. Bosch yang menyatakan bahwa proses Indianisasi di Kepulauan Indonesia dilakukan oleh kelompok tertentu, mereka itu terdiri atas kaum terpelajar yang mempunyai semangat untuk menyebarkan agama Buddha. Kedatangan mereka disambut baik oleh tokoh masyarakat. Selanjutnya karena tertarik dengan ajaran Hindu-Buddha mereka pergi ke India untuk memperdalam ajaran itu. Lebih lanjut Bosch mengemukakan bahwa proses Indianisasi adalah suatu pengaruh yang kuat terhadap kebudayaan lokal.  

  Dengan berdasarkan teori-teori yang dikemukan di atas dapat ditarik suatu  kesimpulan  bahwa  masyarakat  di  Kepulauan  Indonesia telah mencapai tingkatan tertentu sebelum munculnya kerajaan yang bersifat Hindu-Buddha. Melalui proses akulturisasi,  budaya yang dianggap sesuai dengan karakteristik  masyarakat  diterima dengan menyesuaikan pada budaya masyarakat setempat pada masa itu.  


Demikianlah artikel yang berjudul . Apabila ada kekurangan ataupun kekeliruan dalam penulisan artikel ini, Pustaka Pengetahuan mengucapkan mohon maaf yang sebesar - besarnya. Silahkan tinggalkan pesan yang bijak pada kolom komentar yang tersedia. Terima kasih sudah mengunjungi, semoga bermanfaat.

Bahan bacaan lainnya, jika membantu tugas sekolah silahkan klik Berbagai Reviews 

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, silahkan klik Baraja Farm 

Tutorial cara budidaya silahkan klik Baraja Farm Channel 

Media sosial silahkan klik facebook.com 


Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar