Selasa, 28 Juli 2020

Pembagian Dan Ciri - Ciri Zaman Prasejarah

| Selasa, 28 Juli 2020
zaman prasejarah


Zaman prasejarah merupakan kurun waktu yang bermula ketika makhluk hominini mulai memanfaatkan perkakas batu sekitar 3,3 juta tahun silam, dan berakhir ketika sistem tulis diciptakan. Oleh karena itu prasejarah juga disebut Zaman Praaksara (zaman sebelum ada aksara) atau Zaman Nirleka (zaman ketiadaan tulisan). 

Pengertian Prasejarah

Prasejarah adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Zaman prasejarah dapat dikatakan bermula pada saat terbentuknya alam semesta.

Prasejarah adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Zaman prasejarah dapat dikatakan bermula pada saat terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada masa di mana terdapat kehidupan di muka Bumi dimana manusia mulai hidup.

Manusia Prasejarah.

Manusia prasejarah sudah pandai membuat lambang-lambang, tanda-tanda, maupun gambar-gambar, tetapi sistem-sistem tulis tertua diketahui baru muncul sekitar 5.300 tahun silam, dan adopsi sistem tulis secara luas baru terjadi ribuan tahun kemudian. Beberapa kebudayaan baru menggunakan sistem tulis pada abad ke-19, bahkan masih ada segelintir kebudayaan yang belum menggunakannya sampai sekarang. Oleh karena itu tarikh akhir prasejarah berbeda - beda dari satu tempat ke tempat lain, dan istilah "prasejarah" tidak begitu sering digunakan dalam wacana mengenai masyarakat-masyarakat yang baru belakangan ini keluar dari masa prasejarah.

Awal Istilah Prasejarah.

Istilah "prasejarah" dapat berarti kurun waktu panjang yang bermula dari kejadian alam semesta atau penciptaan Planet Bumi, tetapi lebih sering diartikan sebagai kurun waktu yang bermula sejak kemunculan makhluk hidup di Planet Bumi, bahkan lebih khusus lagi diartikan sebagai kurun waktu yang bermula sejak kemunculan umat manusia.

Gagasan "prasejarah" mulai mengemuka pada Abad Pencerahan dalam karya-karya tulis para ahli purbakala, yang memakai kata 'primitif' untuk menyifatkan masyarakat-masyarakat yang sudah wujud sebelum munculnya rekam sejarah. Prasejarawan Prancis, Paul Tournal, pertama kali memunculkan istilah "pré-historique" untuk menyifatkan temuan-temuannya di gua-gua kawasan selatan Prancis. Istilah ini dimasukkan ke dalam kosakata bahasa Prancis pada tahun 1830 sebagai sebutan bagi kurun waktu sebelum sistem tulis diciptakan, dan kemudian hari diserap menjadi kata "prehistorie" dalam bahasa Belanda. Kata "prasejarah" adalah terjemahan harfiah dari "prehistorie", tetapi frasa "zaman praaksara" dan "zaman nirleka" juga kerap dipakai sebagai bentuk lain dari istilah "prasejarah".

Penggunakan skala waktu geologi untuk membagi prasejarah-pramanusia, dan sistem tiga zaman untuk membagi prasejarah-manusia, adalah sistem yang muncul menjelang akhir abad ke-19 dalam karya-karya tulis para antropolog, arkeolog, dan ahli purbakala Inggris, Jerman, maupun Skandinavia

Kurun Waktu Zaman Prasejarah.

Batas antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah mulai adanya tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa prasejarah adalah zaman sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut.

Kurun waktu ketika sebuah kebudayaan belum memiliki sistem tulis sendiri, tetapi sudah terperikan dalam rekam sejarah pihak lain, disebut sebagai protosejarah kebudayaan tersebut. Bertolak dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada rekam sejarah dari masa prasejarah-manusia, sehingga penentuan tarikh pembuatan benda-benda prasejarah menjadi sangat penting. Teknik-teknik penentuan tarikh secara jelas baru disempurnakan pada abad ke-19.

Kajian Zaman Prasejarah

Kajian prasejarah-manusia berbeda dengan ilmu sejarah bukan hanya karena menggunakan istilah kronologis yang berbeda, melainkan juga karena menggeluti aktivitas-aktivitas kebudayaan-kebudayaan arkeologis alih-alih bangsa-bangsa atau orang-orang pribadi yang memiliki nama. Dengan hanya berkutat pada proses-proses bendawi, sisa-sisa benda, dan artefak-artefak alih-alih dengan keterangan-keterangan tertulis, kajian prasejarah menjadi kajian atas hal-hal yang awanama. Oleh karena itu istilah-istilah yang dipakai para prasejarawan untuk menyebut sesuatu, misalnya istilah "Manusia Neandertal" atau istilah "Zaman Besi", adalah label-label modern yang definisinya kadang-kadang dapat diperdebatkan.

Cara - Cara Penelitian tentang Masa Prasejarah.

Sumber utama informasi tentang masa prasejarah adalah arkeologi (cabang ilmu antropologi), tetapi sementara ahli kini mulai lebih banyak memanfaatkan bukti-bukti dari bidang-bidang ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Cara mendapatkan informasi seperti ini telah digembar-gemborkan para penganjur kajian sejarah mendalam.

Peneliti-peneliti utama prasejarah-manusia adalah para arkeolog dan ahli antropologi biologis yang menggunakan ekskavasi, survei geologi, survei geografi, dan berbagai analisis ilmiah lain untuk menyingkap dan menafsirkan fitrah serta perilaku masyarakat-masyarakat praaksara dan tunaaksara. Para ahli genetika populasi manusia dan para ahli linguistik historis juga menyumbangkan tinjauan-tinjauan berharga bagi usaha tersebut. Para antropolog kebudayaan membantu menyiapkan konteks bagi interaksi-interaksi sosial yang merupakan ajang perpindahan benda-benda hasil karya manusia di tengah-tengah masyarakat, sehingga memungkinkan dilakukannya analisis terhadap benda apa saja yang muncul dalam konteks prasejarah-manusia. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data tentang masa prasejarah diperoleh dari berbagai bidang ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial, seperti antropologi, arkeologi, arkeoastronomi, linguistik komparatif,biologi, geologi, genetika molekuler, paleontologi, palinologi, antropologi biologis, dan lain-lain.

Pembagian Zaman Prasejarah.

Dalam membagi prasejarah - manusia di Erasia, para sejarawan bisanya menggunakan sistem tiga zaman, sementara para ahli di bidang kajian prasejarah-pramanusia biasanya menggunakan rekam geologi yang didefinisikan dengan jelas dan tingkatan stratum dalam rentang skala waktu geologi yang didefinisikan secara internasional. Sistem tiga zaman adalah periodisasi prasejarah-manusia menjadi tiga kurun waktu berurutan yang diberi nama menurut teknologi pembuatan perkakasnya yang paling menonjol, yaitu:

1. Zaman Batu.


zaman batu


Konsep "Zaman Batu" dipakai dalam kajian arkeologi di hampir semua negara di dunia. Dalam kajian arkeologi Benua Amerika, Zaman Batu disebut dengan berbagai nama lain, dan dimulai dari Tahap Litikum atau Zaman Paleo-Indian. Pembagian Zaman Batu berikut ini digunakan dalam kajian prasejarah Erasia, dan tidak selalu sama dari satu tempat ke tempat lain. Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini diperiodisasi lagi menjadi 4 zaman, antara lain:

a. Paleolitikum

Paleolitikum atau Zaman Batu Tua bermula ketika manusia mulai memanfaatkan perkakas-perkakas batu. Paleolitikum adalah kurun waktu tertua dalam rentang Zaman Batu. Kurun waktu tertua dalam rentang Paleolitikum disebut Paleolitikum Awal, yakni kurun waktu sebelum munculnya Homo sapiens. Kurun waktu ini bermula dengan kemunculan Homo habilis (berikut spesies-spesies kerabatnya) dan perkakas-perkakas batu perdana yang diperkirakan berasal dari 2,5 juta tahun silam.

Zaman batu tua (palaeolitikum) disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya, periode ini disebut masa food gathering (mengumpulkan makanan), manusianya masih hidup secara nomaden (berpindah-pindah) dan belum tahu bercocok tanam.

Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belumdihaluskan. Contoh alat-alat tsb adalah :

Kapak genggam

banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat inibiasanya disebut “Chopper” (alat penetak/pemotong). Dinamakan kapak genggam, karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetspi tidak bertangkai dan cara menggunakan nya dengan mengenggam. Kapak genggam terkenal juga dengan sebutan kapak perimbas, ataudalam ilmu prasejarah disebut dengan chopper artinya alat penetak.Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam.

Flakes

yaitu alat-alat kecil yang terbuat batu chalcedon yang dapat digunakanuntuk mengupas makanan.

Ciri-ciri zaman palaeolitikum  adalah :
  • Kebudayaan masih primitif dan sederhana
  • Hidup berpindah-pindah (Nomaden)
  • Berburu dan mengumpulkan makanan (food Producing)
  • Terjadi pada 50.000 hingga 10.000 SM

b. Mesolitikum

Mesolitikum atau Zaman Batu Madya adalah kurun waktu perkembangan teknologi manusia yang mengantarai Paleolitikum dan Neolitikum dalam rentang Zaman Batu. Kurun waktu ini bermula pada akhir kala Pleistosen, sekitar 10.000 tahun silam, dan berakhir pada waktu munculnya kepandaian bercocok tanam yang berbeda-beda dari satu kawasan ke kawasan lain. Di beberapa kawasan, misalnya Timur Dekat, kegiatan bercocok tanam sudah dirintis pada akhir kala Pleistosen, sehingga kurun waktu Mesolitikum di kawasan itu berlangsung singkat dan tidak begitu jelas batas-batasnya. Di kawasan-kawasan yang hanya sedikit terkena dampak glasiasi, kadang-kadang digunakan istilah "Epipaleolitikum" atau Zaman Batu Tua Lanjut.

Sisa-sisa peninggalan dari kurun waktu ini cukup langka, dan seringkali hanya berupa timbunan-timbunan sampah dapur. Di kawasan-kawasan berhutan telah didapati tanda-tanda pertama deforestasi, meskipun kegiatan deforestasi baru giat dilakukan pada Neolitikum, manakala manusia membutuhkan lahan yang lebih luas untuk bercocok tanam.

Di banyak tempat, Mesolitikum dicirikan oleh perkakas - perkakas rijang rakitan, yakni mikrolit dan mikroburin. Alat pancing, beliung batu, dan benda-benda dari kayu seperti biduk dan busur telah ditemukan di beberapa situs. Teknologi-teknologi tersebut pertama kali muncul di Afrika, dan dihubung-hubungkan dengan kebudayaan-kebudayaan Azilia, baru kemudian menyebar ke Eropa melalui kebudayaan Iberomaurusia di kawasan utara Afrika dan kebudayaan Kebara di Syam. Meskipun demikian, tidak mustahil ada kebudayaan yang menciptakan sendiri teknologi-teknologi tersebut dengan kemampuan reka cipta mereka.

Ciri zaman Mesolithikum:
  • Nomaden dan masih melakukan food gathering (mengumpulkan makanan)
  • Berburu dan menangkap ikan
  • Alat-alat yang dihasilkan nyaris sama dengan zaman palaeolithikum yakni masih merupakan alat-alat batu kasar.
  • Hidup mulai menetap (semi sedenter) digua-gua (Abris souc Roche)
  • Ditemukannya bukit-bukit kerang di pinggir pantai yang disebut Kjoken Mondinger (sampah dapur)
  • Alat-alat zaman mesolithikum antara lain: Kapak genggam (Pebble), Kapak pendek (hache Courte) Pipisan (batu-batu penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah.
  • Alat-alat diatas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Flores.
  • Alat-alat kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua Lawa Sampung, Jawa Timur yang disebut Abris Sous Roche antara lain: Flakes (Alat serpih),ujung mata panah, pipisan, kapak persegi dan alat-alat dari tulang.
  • Alat-alat yang digunakan adalah: Kapak gengam (peble), Bache Courte (kapak pendek) 

c. Neolitikum

Dari sekian banyak spesies manusia yang muncul pada kurun waktu Paleolitikum, hanya Homo sapiens sapiens yang tersisa pada kurun waktu Neolitikum (Homo floresiensis mungkin bertahan hidup sampai ke permulaan kurun waktu Neolitikum sekitar 12.200 tahun silam). Neolitikum adalah kurun waktu perkembangan teknologi dan pembentukan masyarakat primitif. Neolitikum atau Zaman Batu Muda bermula kira-kira 10.200 tahun Pra-Masehi di beberapa tempat di Timur Tengah, baru kemudian hari bermula di kawasan-kawasan lain, dan berakhir pada kurun waktu 4.500 tahun sampai 2.000 tahun Pra-Masehi. Neolitikum merupakan kurun waktu perubahan serta kemajuan perilaku dan karakteristik budaya, yang mencakup pemanfaatan tanaman pangan liar maupun tanaman pangan yang dibudidayakan dan satwa - satwa yang dijinakkan.

Neolitikum adalah kurun waktu munculnya desa-desa perdana, pertanian, penjinakan satwa, perkakas-perkakas, dan jejak-jejak peperangan tertua. Neolitikum bermula dengan munculnya kepandaian bercocok tanam yang melahirkan "Revolusi Neolitikum", dan berakhir ketika pemanfaatan perkakas logam mulai menyebar luas (pada Zaman Tembaga atau Zaman Perunggu, atau pada Zaman Besi di beberapa kawasan). Istilah "Neolitikum" hanya lazim digunakan di Dunia Lama, karena penerapannya pada kebudayaan-kebudayaan di Benua Amerika dan kawasan Oseania yang belum sempurna teknologi olah logamnya menimbulkan sejumlah permasalahan.


Ciri - Ciri Zaman Neokitikum.


Sifat permukiman mulai lebih permanen. Beberapa di antaranya memiliki rumah-rumah bundar beruangan tunggal berbahan baku bata lumpur. Permukiman mungkin pula dikelilingi tembok batu untuk mencegah ternak kabur sekaligus melindungi warga dari suku-suku lain. Permukiman-permukiman yang dibangun lebih kemudian memiliki rumah-rumah berbahan baku bata lumpur, tempat keluarga hidup bersama dalam satu atau lebih dari dari ruangan. Temuan-temuan kubur menyiratkan adanya adat penghormatan terhadap leluhur dalam bentuk pengawetan tengkorak orang mati. Kebudayaan Vinča mungkin telah menciptakan sistem tulis tertua. Komplek-kompleks kuil megalitik di Ġgantija menonjol karena ukuran raksasanya. 

Meskipun beberapa masyarakat Neolitikum Akhir di Erasia sudah membentuk perkauman-perkauman terstratifikasi yang kompleks bahkan negara, negara-negara baru terbentuk di Erasia pada saat kemunculan metalurgi, dan kebanyakan masyarakat Neolitik relatif sederhana dan egaliter. Kebanyakan pakaian tampaknya terbuat dari kulit hewan, sebagaimana diindikasikan oleh temuan sejumlah besar peniti dari tulang dan tanduk yang ideal digunakan untuk menyemat dan mengencangkan pakaian berbahan kulit hewan. Pakaian berbahan wol dan lenan mungkin sudah dibuat menjelang akhir kurun waktu Neolitikum, sebagaimana yang diisyaratkan oleh temuan batu-batu berlubang yang (tergantung ukurannya) mungkin pernah digunakan sebagai cakram gelendong atau pemberat benang lungsin.

d. Megalithikum (Zaman batu besar).

Disebut Zaman batu besar (megalitikum), karena kebudayaan umumnya terbuat dari batu dalam ukuran besar.

Hasil kebudayaan Megalithikum, antara lain:
  • Menhir: Tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang.
  • Fungsi: Sebagai tempat pemujaan untuk penghormatan terhadaparwah nenek moyang
  • Kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup 6. Arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan merekaFungsi: -sebagai tempat pemujaan untuk penghormatan terhadaparwah nenek moyang
  • Punden berundak: tempat pemujaan bertingkat

Ciri-ciri zaman megalitikum :
  • Manusia sudah dapat membuat dan meninggalkan kebudayaan yang terbuat dari batu-batu besar
  • Berkembang dari zaman neolitikum sampai zaman perunggu
  • Manusia sudah mengenal kepercayaan utamnya animisme

2. Zaman Logam.


zaman logam


Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam ini dibagi atas:

a. Kalkolitikum (Zaman Tembaga )

Kalkolitikum atau Zaman Tembaga adalah kurun waktu transisi, manakala kepandaian mengolah logam tembaga muncul bersamaan dengan menyebarnya pemanfaatan perkakas batu. Pada kurun waktu ini, sejumlah senjata dan perkakas dibuat dari tembaga. Meskipun masih sangat bersifat Neolitik, sesungguhnya Kalkolitikum adalah fase Zaman Perunggu sebelum manusia mengetahui bahwa melakur tembaga dengan timah akan menghasilkan logam yang lebih keras, yakni perunggu. Zaman Tembaga mula-mula didefinisikan sebagai kurun waktu transisi dari Neolitikum ke Zaman Perunggu. Meskipun demikian, karena dicirikan oleh pemanfaatan logam, Zaman Tembaga lebih dianggap sebagai bagian dari Zaman Perunggu daripada Zaman Batu.

b. Zaman Perunggu

Pada Zaman Perunggu, beberapa kebudayaan mulai mengenal kepandaian mengabadikan ingatan tentang suatu kejadian dalam bentuk keterangan tertulis, dan dengan demikian menjadi kebudayaan-kebudayaan pertama yang keluar dari masa prasejarah. Oleh karena itu Zaman Perunggu atau kurun-kurun waktu tertentu dalam rentang Zaman Perunggu hanya dapat dianggap sebagai bagian dari masa prasejarah di kawasan-kawasan dan peradaban-peradaban yang baru belakangan mengadopsi atau mengembangkan sistem penyimpanan keterangan tertulis. Di beberapa kawasan, waktu penciptaan tulisan bertepatan dengan permulaan Zaman Tembaga. Tak lama sesudah kemunculan tulisan, orang mulai menghasilkan teks-teks, antara lain uraian kejadian secara tertulis dan catatan-catatan administratif.

Istilah "Zaman Perunggu" mengacu kepada kurun waktu dalam perkembangan kebudayaan umat manusia manakala kepandaian pengolahan logam yang paling maju (setidaknya dari segi pemanfaatannya yang luas dan sistematis) sudah mencakup teknik-teknik peleburan tembaga dan timah dari bijih-bijih yang muncul ke permukaan bumi secara alami, kemudian memadukan kedua jenis logam tersebut menjadi perunggu. Kandungan arsenikum adalah salah satu unsur ketidakmurnian yang lumrah ditemukan pada bijih-bijih yang muncul ke permukaan bumi secara alami. Bijih tembaga maupun timah adalah bijih-bijih yang langka, dicerminkan oleh kenyataan bahwa tidak ada perunggu fosfor di kawasan barat Asia sebelum tahun 3000 Pra-Masehi. Zaman Tembaga merupakan bagian dari sistem tiga zaman dalam penggolongan masyarakat-masyarakat prasejarah. Dalam sistem ini, Zaman Perunggu berlangsung selepas Zaman Batu Muda di beberapa kawasan dunia.

Meskipun bijih tembaga ada di mana-mana, timah merupakan barang langka di Dunia Lama, dan seringkali harus diperdagangkan atau diangkut melewati jarak tempuh yang cukup jauh dari tempat-tempat penambangannya yang cuma segelintir, sehingga memicu terciptanya rute-rute dagang penghubung berbagai kawasan yang saling berjauhan.

c. Zaman Besi

Pada masa ini manusia telah dapat melebur besi untuk dituang menjadi alat-alat yang dibutuhkan, pada masa ini di Indonesia tidak banyak ditemukan alat-alat yang terbuat dari besi.

Alat-alat yang ditemukan adalah :
  • Mata kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu, berfungsi untuk membelah kayu
  • Mata Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuh-tumbuhan
  • Mata pisau
  • Mata pedang
  • Cangkul, dll


   Demikianlah artikel yang menjelaskan tentang "Pembagian Dan Ciri - Ciri Zaman Prasejarah". Semoga melalui tulisan ini memberikan pemahaman kepada pembaca yang sedang mempelarinya. Pustaka Pengetahuan mengucapkan mohon maaf jika ada kesalahan dan silahkan tinggal tanggapan maupun kritikan yang sifatnya memperbaiki untuk yang akan datang. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Bahan bacaan lainnya, jika membantu tugas sekolah silahkan klik Berbagai Reviews 

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, silahkan klik Baraja Farm 

Tutorial cara budidaya silahkan klik Baraja Farm Channel

Media sosial silahkan klik facebook


Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar